Kasus deepfake AI mahasiswi Solo berinisial E diduga turut menyasar enam temannya yang pernah bersekolah di SMAN 1 Cepu, Blora. (Foto: ist)

SOLO, iNews.id - Mahasiswi asal Solo berinisial E dan enam temannya diduga menjadi korban manipulasi konten bermuatan seksual menggunakan teknologi deepfake AI. Ketujuh perempuan tersebut saling mengenal karena pernah bersekolah di SMAN 1 Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Kuasa hukum E, Zainal Petir mengatakan, kasus tersebut tidak hanya menimpa kliennya. Berdasarkan keterangan E, terdapat enam perempuan lain yang foto maupun videonya diduga turut dimanipulasi tanpa persetujuan.

Dari total tujuh korban, empat orang kini menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Semarang. Sementara tiga lainnya berada di Solo, termasuk E yang lebih dahulu melaporkan teror melalui sejumlah akun Instagram anonim.

“Menurut keterangan E, ada 6 korban lain yang dimanipulasi. Semuanya teman satu SMAN Cepu, Blora,” kata Zainal Petir dikutip dari iNews Joglo Semar, Selasa (28/7/2026).

Kasus tersebut bermula ketika E menerima teror dari sejumlah akun Instagram anonim. Akun-akun itu mengirimkan hasil manipulasi AI melalui pesan langsung atau direct message.

E kemudian berusaha menelusuri sumber konten tersebut. Salah satu akun anonim mengaku mendapatkannya dari sebuah grup Telegram.

Namun, akun tersebut tidak memberikan informasi mengenai nama maupun identitas grup ketika dimintai penjelasan lebih lanjut.

Dugaan adanya enam korban lain membuat kasus ini semakin serius. Seluruh korban memiliki hubungan pertemanan sejak duduk di bangku sekolah menengah.

“Dari hasil profiling yang dilakukan penyidik, para korban diketahui saling mengenal karena pernah bersekolah satu SMA, yakni SMAN 1 Cepu,” katanya.

Zainal mengatakan, penyidik Siber Polda Jawa Tengah telah melakukan profiling terhadap akun dan jejak digital yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Dari proses itu, dugaan mengenai pihak yang berada di balik pembuatan maupun penyebaran konten disebut mulai mengerucut. Zainal menduga petunjuk sementara mengarah kepada seorang mahasiswa.

Meski demikian, dugaan tersebut belum diumumkan atau dikonfirmasi secara resmi oleh kepolisian. Identitas pihak yang dicurigai sepenuhnya menjadi kewenangan penyidik.

Zainal mendesak Direktorat Siber Polda Jateng Jawa Tengah mengusut kasus tersebut secara maksimal. Pengungkapan dinilai penting untuk melindungi seluruh korban sekaligus mencegah kasus serupa kembali terjadi.

“Saya minta supaya Direktur Siber Polda Jawa Tengah untuk segera bekerja maksimal. Petunjuk-petunjuk sudah sangat jelas. Saya yakin pelaku akan terungkap,” katanya.

Saat ini, perkara tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Pemeriksaan terhadap sejumlah saksi disebut akan dilakukan setelah proses profiling selesai.

Hingga kini, polisi belum mengumumkan identitas pihak yang diduga membuat maupun menyebarkan konten pornografi tersebut. Keterlibatan siapa pun tetap harus dibuktikan melalui proses hukum.


Editor : Donald Karouw

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network