Ilustrasi penanganan kasus DBD (Foto: Antara)

KULONPROGO, iNews.id – Dinas Kesehatan Kulonprogo, Yogyakarta mencatat 71 kasus demam berdarah dengue (DBD) di tahun 2020. Angka ini cukup diwaspadai karena lokasi persebarannya semakin meluas.

“Awal tahun ini, sudah ada 71 kasus, ini cukup tinggi dan harus ditangani," kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kulonprogo, Baning Rahayu Jati, Rabu (11/3/2020).

Menurutnya, jika periodesasi kasus DBD menggunakan pola enam tahunan, maka puncaknya terjadi pada 2016 dan akan kembali terulang di 2022. Namun di tahun 2019, kasus DBD sudah diangkat 259 kasus.

"Periode enam tahunan di 2014, dalam setahun itu hanya 128 kasus, sekarang sudah 71 ini perlu penanganan sedangkan," ucapnya.

Baning menjelaskan, sebaran kasus DBD semakin meluas. Selama ini DBD hanya terjadi di wilayah dataran rendah saja. Namun dalam awal tahun ini sudah terjadi di Perbukitan Menoreh. Di mana lokasi tersebut sebelumnya terbebas dari kasus DBD.

“Dulu DBD tidak pernah ada di perbukitan, sekarang sudah ditemukan kasusnya,” ujarnya.

Hingga kini Dinas Kesehatan melakukan pengasapan fogging di beberapa wilayah. Salah satunya di Kapanewon, Galur, Wates, Lendah dan Temon. Hanya saja, fogging bukan untuk membasmi nyamuk aedes aigepty.

“Selama ini belum ada obat khusus DBD, obatnya ya obat demam tidak ada yang khusus," ujar Baning.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo Sri Budi Utami mengatakan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) lebih ampun. Caranya yaitu mengubur, menutup dan menguras tandon air.

"Kami terus sosialisasikan gerakan PSN, untuk pencegahan," ucap Sri.


Editor : Nani Suherni

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network