Katul, bersama sang bibi, Siti Khotimah di rumah reot miliknya di Kampung Tambakselo, RT 6/RW 2 Desa Pasekan, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (Foto: iNews/Lurisa Lulu)

SEMARANG, iNews.id - Dengan keterbatasan fisik tidak seperti manusia normal lainnya, seorang bocah difabel di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, justru harus hidup serba kekurangan dengan kondisi rumah yang sangat memprihatinkan. Ironisnya , bocah berusia 10 tahun itu harus hidup tanpa belaian kasih sayang kedua orang tua, yang telah pergi meninggalkan rumah sejak lama.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin pribahasa ini yang bisa tersemat pada Faridatul Mutmainah, bocah perempuan difabel berusia 10 tahun yang memiliki keterbatasan fisik. Di rumah reot yang berlokasi di Kampung Tambakselo, RT 6/RW 2 Desa Pasekan, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sang bocah difabel ini harus hidup dengan keterbatasan fisik dan serba kekurangan.

Kendati organ tubuhnya nampak utuh, namun kedua tangan dan kakinya tak bisa difungsikan sama sekali. Akibatnya, Katul, panggilan akrabnya, harus mengesot di lantai tanah saat ingin bergerak atau berpindah tempat.

Ironisnya, nasib malang bocah ini kian bertambah karena hidup tanpa belaian kasih sayang kedua orang tua. Sang ibu, Rubiah yang pergi sejak Katul masih bayi untuk mencari pekerjaan hingga kini tidak pernah kembali. Sementara sang ayah yang juga merantau ke Jakarta sejak setahun lalu tak juga pernah pulang ke rumah.

Beruntung, Katul masih memiliki seorang kakak, Imam dan bibi, Siti Khotimah yang mau merawat dan menjaganya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sang kakak yang hanya tamatan SD hanya bisa bekerja serabutan. Sementara sang bibi menjaga dan merawat Katul saat kakaknya bekerja.

“Dari kecil Mas sakitnya. Dulu katanya sakit saraf. Dia sudah saya rawat sejak lama. Tidak ingat berapa tahun, pokoknya sudah lama. Orang tuanya tidak tahu ke mana. Saya tidak pernah ngerti mereka pergi ke mana,” ucap Siti Khotimah, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (10/2/2018).

Dengan keterbatasan fisik dan kesulitan berbicara, bocah malang ini sepanjang hidupnya hanya bisa bermain di dalam rumah. Dia tak bisa merasakan kebahagiaan seperti anak normal lainnya. Melalui senyum tulus di wajahnya, gadis yang belum berdosa ini berharap, kedua orang tuanya bisa kembali pulang ke rumah, agar bisa merawat dan menjaganya.


Editor : Himas Puspito Putra

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network