KENDAL, iNews.id – Polisi masih menyelidiki insiden siswa sekolah dasar (SD) berinisial MTAI (11) yang diduga terkena peluru nyasar saat sedang berkunjung ke pasar malam di kompleks Mako Brimob Batalyon A Pelopor Kaliwungu Kendal.
Kapolres Kendal, AKBP Ratna Quratul Ainy mengatakan, sudah menerima laporan insiden yang dialami seorang anak di sekitar kompleks Rusun Mako Brimob Kaliwungu.
Namun, kapolre smengaku belum bisa menyimpulkan penyebab pasti maupun jenis benda yang melukai tubuh korban apakah karena peluru nyasar atau sebab lain.
"Sampai saat ini penyebab pasti luka dan jenis benda yang berkaitan masih menunggu hasil observasi serta keterangan resmi dokter dari Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang," kata AKBP Ratna Quratul Ainy.
Insiden memilukan itu terjadi saat korban bersama temannya sedang berjalan-jalan melihat arena permainan pasar malam di lapangan Mako Brimob Kaliwungu.
Paman korban, Mujiono, menuturkan bahwa peristiwa bermula ketika keponakannya hendak berjalan pulang sekitar pukul 19.00 WIB. Tiba-tiba terdengar suara letusan keras menyerupai tembakan senjata api.
"Begitu terdengar bunyi letusan, temannya langsung lari ketakutan. Sementara keponakan saya tiba-tiba mengeluh sakit di bagian punggung bawah ketiak dan melihat bajunya sudah bersimbah darah," ujar Mujiono, Rabu (4/11/2026).
Melihat adanya korban luka tembak, pengunjung pasar malam dan anggota Brimob yang bersiaga langsung mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Darul Istiqomah Kaliwungu.
Mujiono mengungkapkan kekecewaannya lantaran pada informasi awal, pihak keluarga hanya dikabari bahwa korban terjatuh dan punggungnya tertancap kawat.
Namun, keraguan keluarga terbukti setelah dokter melancarkan uji rontgen dan menemukan serpihan asing bersarang di dalam jaringan luka.
"Awalnya bilang jatuh kena kawat. Tapi saat dirontgen di rumah sakit, terlihat ada serpihan benda di dalam luka. Kami menyayangkan jika informasi sebenarnya ditutup-tutupi. Kalau memang itu proyektil peluru petugas, kami minta pertanggungjawaban penuh, apalagi biaya operasi pencabutan serpihan sangat mahal mencapai Rp30 juta," katanya.
Saat ini korban telah dirujuk ke RSI Sultan Agung Semarang guna menjalani perawatan medis dan operasi pengangkatan serpihan.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait