GROBOGAN, iNews.id - Puluhan sinden dan seniman di Kabupaten Grobogan menggelar aksi keprihatinan terkait larangan pentas. Mereka berjalan kaki menaiki bukit dan menggelar pentas wayang kulit.
Aksi dilakukan para seniman yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pegiat Seni (Forkapi) Grobogan sebagai respons atas Surat Edaran (SE) Bupati. Dengan mengenakan pakaian Jawa, para seniman dan sinden jalan kaki menuju puncak Bukit Sedayu yang berlokasi di Desa Sedayu, Kecamatan/Kabupaten Grobogan, Rabu (17/3/2021) kemarin.
Mereka rela menyusuri jalan setapak yang berbahaya sebagai bentuk keprihatinan atas kebijakan Bupati terkait larangan pentas oleh pegiat seni. Tebing batu dan jurang tidak mereka hiraukan. Agar tidak terjatuh atau terpeleset, para seniman berjalan ekstra hati-hati.
Setelah sekitar 500 meter berjalan, para seniman berhenti di lokasi air terjun puncak Bukit Widuri. Salah satu dalang lalu memainkan wayang yang mengambil lakon Petruk Jadi Ratu. Tema ini dipilih sebagai sindiran dan ungkapan kekecewaan terhadap kebijakan Bupati yang melarang kembali para seniman untuk pentas.
Ketika Agustus 2020 lalu, Bupati Grobogan mengeluarkan SE pemberian izin pentas para penggiat seni dengan menaati protokol kesehatan. Namun beberapa minggu setelah SE dikeluarkan, Bupati kembali melarang dan menghentikan izin pentas hingga waktu yang tidak ditentukan. Alasannya, untuk menekan penyebaran Covid-19.
“Bupati telah menyengsarakan ribuan warga Grobogan yang mencari nafkah melaui seni tanpa memberikan solusi. Selama mengadakan pentas, para seniman selalu menaati protokol kesehatan,” kata Ketua Forkapi Grobogan, Hardono.
Para penggiat seni menganggap Bupati telah menjalankan kebijakan sepihak. Sementara, aksi yang digelar di atas bukti dan berhenti di air terjun, dimaksudkan agar tidak menyebabkan kerumunan massa yang banyak. Aksi jalan kaki ke puncak bukit sebagai simbol agar tujuannya tercapai dan Bupati segera memberikan izin pentas kembali.
Selama pandemi Covid-19, para seniman mengaku tidak memiliki penghasilan. Sehingga mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Agar roda kehidupan bisa berjalan, seluruh peralatan untuk manggung, seperti gamelan yang dimiliki, banyak yang dijual atau digadaikan.
Para seniman mengancam akan kembali melakukan aksi yang lebih besar jika tuntutan tidak ditanggapi Bupati. Setelah membacakan petisi, aksi kemudian dilanjutkan dengan potong tumpeng.
Editor : Ary Wahyu Wibowo
Artikel Terkait