GROBOGAN, iNews.id - Belajar dari rumah dengan media online bagi sebagian siswa di kota mungkin tidak jadi masalah. Tapi lain dengan siswa di desa pelosok Grobogan, Jawa Tengah (Jateng) yang harus naik bukit dengan mendapatkan jaringan internet.
Trisnawati bersama anaknya Bela Fransiska warga Desa Suwatu, Kecamatan Gabus, Grobogan harus berjalan menaiki dan menuruni jalan pegunungan sejauh kurang lebih satu kilometer untuk mendapatkan sinyal internet. Sesampai di lokasi bukit tertinggi, dia kemudian menyalakan handphone untuk membuka semua tugas yang sudah diberikan oleh guru kelas melalui jaringan WhatsApp.
Bela panggilan akrab siswi kelas 3 SDN Suwatu ini kemudian mengerjakan satu persatu tugas yang sudah menumpuk selama beberapa hari. Lokasi desa yang berada di tengah hutan dan di bawah pegunungan ini membuat warga kesulitan untuk menangkap jaringan internet.
Jika kondisi hujan, Bela dan warga lainnya tidak bisa berjalan menuju puncak dan tidak bisa mengakses internet. Tugas yang diberikan guru beberapa hari kemarin belum bisa diakses dan dilaporkan ke sekolah. Jika cuaca cerah, Bela dan ibunya bisa setiap hari datang ke puncak bukit.
"Ini susah jaringannya. Ya kita harus naik. Kalau hujan ya enggak bisa pergi buat laporan," ucap orangtua Bela, Trisnawati, Kamis (9/4/2020).
Dia mengaku harus mengumpulkan tugas anaknya selama dua hingga tiga hari tergantung kondisi cuaca. Trisna tidak ingin Covid-19 membuat anaknya tidak bisa belajar. Dia pun selalu menemani Bela agar belajarnya tidak terganggu.
Sementara itu, Kepala Desa Suwatu Riyanto mengaku sudah berupaya untuk melaporkan ke pemerintah daerah terkait pengajuan pengadaan jaringan internet di pelosok. Saat ini belajar siswa juga jadi terganggu karena Covid-19.
"Sekarang itu tugas anak-anak sekolahkan diakses lewat internet. Jadi siswa di desa kami ini sangat terganggu," ujar Riyanto.
Tak hanya Bela, beberapa siswa SMP dan SMA di desa tersebut pun ikut naik bukit untuk melaporkan tugas sekolahnya. Saat ini, warga pun mengaku kehilangan akses dengan sejumlah keluarga di luar desa karena tak bisa menghubungi dan tidak berani keluar daerah.
Editor : Nani Suherni
Artikel Terkait