BANYUMAS, iNews.id – Pemandangan kontras terlihat di hari pertama masuk sekolah pada tahun ajaran baru di SD Negeri 8 Kranji, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin (13/7/2026) pagi. Di saat mayoritas sekolah dasar lain dipadati ratusan murid baru, SDN 8 Kranji justru mengawali kegiatan belajar mengajar (KBM) hanya dengan tiga siswa kelas 1.
Ironisnya, sekolah bentukan pemerintah ini sebenarnya berada di kawasan tengah kota. Minimnya jumlah peserta didik baru ini terbilang mencolok lantaran SDN 8 Kranji memiliki daya tampung hingga 28 siswa dalam satu rombongan belajar (rombel).
Hingga batas akhir Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), kuota yang terisi untuk kelas 1 hanya ada tiga siswa. Artinya, sekolah ini masih menyisakan 25 kursi kosong yang tidak berpenghuni.
Meski kondisi kelas terbilang sepi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para orang tua. Nur, salah seorang orang tua siswa, mengaku tetap mantap dan percaya diri menyekolahkan putrinya, Nala, di sekolah tersebut.
"Saya tetap mantap menyekolahkan anak di sini. Pagi ini saya antar langsung dengan suka cita untuk memulai hari pertamanya sekolah," kata Nur saat mendampingi putrinya di lokasi.
Kepala SDN 8 Kranji, Nur Laila membeberkan, pada awal pelaksanaan SPMB yang menggunakan sistem online, sekolahnya bahkan sempat mencatat rapor merah karena hanya menerima satu orang pendaftar saja.
Melihat kondisi darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Pendidikan langsung turun tangan dan memberikan dispensasi khusus berupa izin pembukaan pendaftaran secara tatap muka (offline) bagi sekolah-sekolah yang kekurangan kuota.
"Setelah dibuka jalur offline, sebenarnya jumlah pendaftar bertambah menjadi tujuh orang. Namun, dari jumlah itu hanya tiga anak yang murni siswa baru kelas 1, sedangkan empat lainnya adalah siswa pindahan yang masuk ke kelas 2," ujar Nur Laila.
Dia menilai, anjloknya jumlah pendaftar pada tahun ini dipengaruhi oleh transisi kebijakan baru, di mana sistem SPMB online untuk pertama kalinya diterapkan di jenjang Sekolah Dasar (SD) sewilayah Banyumas.
Karakteristik masyarakat yang masih beradaptasi serta minimnya sosialisasi teknis pendaftaran dituding menjadi pemicu utama banyak orang tua yang kebingungan mendaftar.
"Selain masalah adaptasi sistem online, letak geografis sekolah kami yang tidak berada di jalur utama juga ikut memengaruhi minat. Terlebih, di sekitar wilayah Kranji ini terdapat beberapa pilihan SD lain, sehingga persaingannya cukup ketat," ucapnya.
Padahal pada tahun ajaran sebelumnya, saat pendaftaran masih dibuka secara offline penuh, SDN 8 Kranji terbilang sukses menjaring hingga 22 siswa baru. Hingga saat ini, total keseluruhan murid yang menempuh pendidikan dari kelas 1 sampai kelas 6 di sekolah tersebut berjumlah 75 anak.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait