Hikmah

Anjuran Mengucapkan Insyaallah Jika Berjanji

Kastolani · Sabtu, 15 Februari 2020 - 05:30 WIB
Anjuran Mengucapkan Insyaallah Jika Berjanji
Muslim hendaknya mengucapkan kalimat Insyaallah jika berjanji. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Berjanji memang mudah dilakukan namun kadang sulit direalisasikan. Padahal, janji adalah utang. Karena itu, Muslim jika menjanjikan sesuatu atau berjanji akan mendatangi suatu acara hendaknya mengucapkan insyaallah. Sebab, manusia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari karena hal itu merupakan sesuatu yang gaib dan hanya Allah lah yang berhak mengetahui-Nya.

Anjuran untuk mengucapkan kalimat insyaallah sudah termaktub dalam Alquran, yakni Surat Al Kahfi ayat 24:

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۖوَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا

Artinya: "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut), Insya Allah." Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa, dan katakanlah, "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS. Al Kahfi: 23-24).

Mufasir Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir seperti dinukil iNews.id dari quranpustaka.com menerangkan, bahwa dalam ayat tersebut Allah SWT memberi petunjuk kepada Rasul-Nya tentang etika bila hendak mengerjakan sesuatu yang telah ditekadkannya di masa mendatang. Hendaklah dia mengembalikan hal tersebut kepada kehendak Allah SWT, Zat yang mengetahui hal yang gaib. Zat Yang mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan yang mengetahui apa yang tidak akan terjadi, seandainya terjadi bagaimana akibatnya.

Dalam kitab Sahihain telah disebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari Ra­sulullah Saw. yang telah bersabda bahwa Sulaiman ibnu Daud a.s. pernah mengatakan, "Sungguh saya akan menggilir ketujuh puluh orang istriku malam ini." Menurut riwayat lain sembilan puluh orang istri, dan menurut riwayat yang lainnya lagi seratus orang istri. Dengan tujuan agar masing-masing istri akan melahirkan seorang anak lelaki yang kelak akan berperang di jalan Allah. Maka dikatakan kepada Sulaiman, yang menurut riwayat lain malaikat berkata kepadanya, "Katakanlah, Insya Alldh," tetapi Sulaiman tidak menurutinya.

Sulaiman menggilir mereka dan ternyata tiada yang mengandung dari mereka kecuali hanya seorang istri yang melahirkan setengah manu­sia. Setelah menceritakan kisah itu Rasulullah Saw. bersabda:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya dia mengucapkan, "Insyaallah" (jika Allah menghendaki), dia tidak akan melanggar sumpahnya dan akan meraih apa yang diinginkannya. Dan dalam riwayat yang lain disebutkan: Dan sungguh mereka (anak-anaknya) akan berperang di jalan Allah semuanya dengan mengendarai kuda.

Dalam permulaan surat ini telah disebutkan latar belakang penyebab tu­runnya ayat ini, yaitu dalam pembahasan sabda Nabi Saw. ketika ditanya mengenai kisah para pemuda penghuni gua, yaitu sabda Nabi Saw. yang mengatakan: Besok aku akan menjawab (pertanyaan) kalian. Kemudian wahyu datang terlambat sampai lima belas hari. Kami telah menyebutkan hadis tersebut secara rinci mencakup semua keterangannya, sehingga tidak perlu diutarakan lagi di sini.

Firman Allah Swt.:
Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa. (Al-Kahfi: 24)

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah apabila kamu lupa mengucapkan pengecualian (Insyaallah), maka sebutkanlah pengecualian itu saat kamu ingat kepadanya. Demikianlah menurut Abul Aliyah dan Al-Hasan Al-Basri.

Hasyim telah meriwayatkan dari Al-Amasy, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan seorang lelaki yang bersumpah bahwa ia boleh mengucapkan Insyaallah sekalipun dalam jarak satu tahun lamanya, dan ia mengucapkan firman-Nya: Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa. (Al-Kahfi: 24)

Maksudnya, mengucapkan kata Insyaallah itu. Dikatakan kepada Al-Amasy, "Apakah engkau mendengarnya dari Mujahid?" Al-Amasy menjawab bahwa telah menceritakan kepadanya Lais ibnu Abu Sulaim, dan mengatakan bahwa Kisai mempunyai pendapat yang sama dengan ini.

Pada garis besarnya pendapat Ibnu Abbas mengatakan bahwa seseorang masih boleh mengucapkan Insyaallah, sekalipun lamanya satu tahun dari sumpahnya itu. Dengan kata lain, apabila ia bersumpah, lalu berlalu satu tahun dan ia baru teringat bahwa ketika bersumpah ia belum menyebut kalimat Insya Allah, maka hendaklah ia menyebutkannya saat ingat.

Menurut tuntunan sunnah, hendaknya orang yang bersangkutan mengucapkan Insyaallah agar ia beroleh pahala karena mengerjakan anjuran sunah, sekalipun hal ini dilakukannya sesudah sumpahnya dilanggar. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Jarir rahimahullah.

Kalimat Insyaallah itu bukan dimaksud untuk menghapus sangsi kifarat sumpah yang dilanggarnya. Apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini merupakan takwil yang benar terhadap pendapat Ibnu Abbas.

Makna ayat mengandung takwil lain, yaitu bahwa melalui ayat ini Allah memberikan petunjuk kepada seseorang yang lupa akan sesuatu dalam pembicaraannya, agar ia mengingat Allah Swt, karena sesungguh­nya lupa itu bersumber dari setan.

Wallahu A'lam Bishshawab.


Editor : Kastolani Marzuki