Banjir Rob di Demak Mulai Surut, Lansia Dievakuasi
DEMAK, iNews.id - Beberapa wilayah Pantura di Jawa Tengah dalam sepekan ini terendam banjir rob atau banjir air pasang. Tak terkecuali di Kabupaten Demak. Walau debit banjir di Demak mulai surut, petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), terus mengevakuasi warga lansia ke lokasi yang lebih tinggi, Sabtu (02/12/2017).
Selain warga lansia, petugas juga mengevakuasi sejumlah kendaraan, dan barang berharga milik warga. Menurut warga, kondisi banjir yang terjadi di Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah, merupakan banjir tertinggi dalam kurun 30 tahun terakhir.
Sriwulan adalah salah satu desa dari 10 desa di Kecamatan Sayung yang terdampak banjir, dan gelombang rob. Karena berbatasaan langsung dengan pesisir Pantai Utara, desa tersebut sering dilanda banjir.
Menjelang akhir 2017, badai siklon tropis Dahlia, mengakibatkan banjir rob setinggi dua meter menerjang 10 desa di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Akibatnya, ribuan rumah terendam banjir rob. Derasnya arus air yang naik ke daratan dan menerjang pemukiman penduduk, membuat sejumlah barang berharga milik warga tidak bisa diselamatkan.
Debit banjir tidak hanya dari gelombang air pasang, tetapi juga kiriman banjir dari daerah lain. Kendati kerap menjadi langganan banjir, namun pemerintah setempat belum menempatkan Desa Sriwulan, dalam status darurat banjir.
Warga mendesak pemerintah segera menempatkan banjir rob di Kecamatan Sayung masuk dalam kategori bencana nasional. Apalagi, banjir rob di kecamatan ini selalu terjadi hampir tiap bulan.
Camat Sayung, Sugiyanto mengatakan, bencana banjir rob di kecamatannya harusnya masuk sebagai bencana nasional. Pasalnya, Kecamatan Sayung merasakan dampak terparah dari banjir rob di kawasan Pantura.
“Harapannya ini masuk bencana nasional agar penanganannya juga lebih serius. Untuk PP (peraturan pemerintah) juga diganti. Jadi rob itu sudah masuk darurat bencana sebetulnya. Tidak seperti sekarang ini,” ucapnya.
Sementara itu, di desa lainnya yaitu Desa Sidogemah, hingga kini juga masih tergenang. Kendati genangan banjir mulai surut, namun di beberapa lingkungan pemukiman masih terendam air.
“Kalau untuk penanganannya ya pasti sulit sih kalau tidak langsung dari pemerintah. Soalnya ini kan butuh tanggul laut,” ujar Fathoni, warga Desa Sidogemah.
Dampak gelombang rob sejak tahun 1997, telah menghilangkan sebagian daratan tiga perdukuhan di Desa Bedono, Dan Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung. perdukuhan tersebut hilang, akibat tergerus abrasi laut.
Editor: Himas Puspito Putra