Bayar Rapid Test Rp550.000 demi Mudik, Pria Ini Malah Dikucilkan saat Tiba di Kampung

Taufik Budi ยท Kamis, 28 Mei 2020 - 13:54 WIB
Bayar Rapid Test Rp550.000 demi Mudik, Pria Ini Malah Dikucilkan saat Tiba di Kampung
Mobil travel membawa pemudik terjaring penyekatan di jalan arteri yakni di depan Pasar Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2020). (Foto: iNews/Tata Rahmanta)

SEMARANG, iNews.id - Pulang ke kampung halaman pada masa pandemi Covid-19 saat ini sangat tidak mudah. Hal tersebut diamali warga Klaten, Jawa Tengah (Jateng) yang rela mengeluarkan uang untuk rapid test agar lolos dari penyekatan petugas.

Komar harus menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk berlebaran di kampung halaman. Menjelang detik-detik datangnya Lebaran Idul Fitri 1441 H, dia selalu memantau meng-update informasi tentang titik-titik penyekatan oleh polisi.

Berlebaran di rantau jauh dari keluarga tak masuk dalam kamus hidupnya. Sudah cukup baginya berpisah dari anak-istri dan orangtuanya selama beberapa bulan terakhir. Hingga H-1 Lebaran, dia membulatkan tekad untuk pulang dari tempat bekerja di Purwakarta Jawa Barat.

Berbeda dengan Lebaran tahun-tahun sebelumnya, kali ini dia memilih menggunakan kendaraan bak terbuka. Menurut informasi, hanya kendaraan barang yang relatif bisa melintas dengan lancar ketika pemeriksaan petugas.

Sejumlah barang dimasukkan ke bak belakang kendaraan hingga penuh. Selembar kain terpal digunakan untuk membungkus. Komar membatin, kota pertama yang bakal dituju yakni, Klaten Jawa Tengah. Dia akan menjemput anak-istri kemudian berlanjut ke Blora, untuk sungkem di pangkuan ibunya.

“Sengaja bawa pikap aja biar mudah di perjalanan. Dan ternyata lancar sampai tujuan. Meski ada pemeriksaan tapi bisa lewat karena barang-barang di belakang full,” katanya.

Komar sengaja tak pulang ke rumah mertuanya terlebih dahulu, melainkan menuju ke salah satu rumah sakit di Klaten. Meski dalam perjalanan relatif tak kontak dengan orang lain, namun kekhawatiran sebagai OTG (orang tanpa gejala) sempat membuat nyalinya ciut.

Anak, istri, dan mertua mesti dijaga kesehatannya. Terlebih, kondisi kesehatan mertuanya sudah mulai menurun akibat faktor usia. Dia penah membaca dalam sebuah berita situs online, lansia merupakan kelompok rentan terserang Covid-19.

Dia pun tak ingin membawa penyakit yang bisa ditularkan kepada orang-orang tercinta. Komar pun mantap menjalani rapid test. Biayanya cukup mahal, dan mesti menunggu hingga sekira 45 menit untuk mengetahui hasil pemeriksaan.

“Mahal bro, bayar Rp550.000,” ucapnya.

“Tapi enggak apa-apa lah, kesehatan anak istri dan mertua adalah yang utama. Mereka lebih penting. Setelah mendapat surat sehat ini. Saya pulang dan menunjukkan surat itu kepada warga yang menjaga portal gang, agar dibukakan,” ujar Komar.

Kebahagiaan seketika menyelimutinya ketika disambut anak dan istri di pintu gerbang. Namun, rasa senang itu ternyata hanya sebentar. Mendadak warga sekitar terlihat menjaga jarak. Anaknya yang biasa azan di masjid tak lagi dekat dengan teman-temannya.

“Sampai Lebaran pun tak ada tetangga yang datang. Jadi seperti dikucilkan. Tapi enggak apa-apa mungkin warga khawatir juga akan Covid-19. Meski sebenarnya saya sudah punya surat sehat dari rumah sakit,” ucapnya.

Dia pun urung pergi ke Blora hingga Lebaran tiba dan memilih video call dengan orang tuanya. Rencananya dia akan langsung kembali ke Purwakarta.

Berita Lain Bisa Dibaca di Okezone.com: Begini Skema New Normal Masjid Agung Kauman Semarang


Editor : Nani Suherni