BMKG Sarankan Petani Rekayasa Komoditas untuk Siasati Perubahan Iklim

Nani Suherni ยท Selasa, 04 Agustus 2020 - 14:38 WIB
BMKG Sarankan Petani Rekayasa Komoditas untuk Siasati Perubahan Iklim
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, saat membuka Sekolah Lapang Iklim di Desa Jogoyasan, Kecamatan, Ngablak, Kabupaten Magelang, Senin (3/8/2020). (Foto: Dok Humas BMKG)

MAGELANG, iNews.id – Badan Meteorilogi Klimatologi dan Gerofisika (BMKG) meminta petani untuk menyiasati perubahan iklim melalui rekayasa komoditas. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi puso atau gagal panen pada musim kemarau.

“Petani perlu jeli dalam memperhatikan cuaca dan musim. Pilih tanaman yang cocok dengan musim tersebut. Jangan paksakan tanam padi yang membutuhkan banyak air pada saat musim kemarau,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, saat membuka Sekolah Lapang Iklim di Desa Jogoyasan, Kecamatan, Ngablak, Kabupaten Magelang, Senin (3/8/2020).

Dia mengatakan, petani perlu mencari alternatif komoditas setiap kali pergantian musim. Tentunya dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan musim, agar diperoleh harga jual yang juga baik.

BMKG pun menyelenggarakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) agar petani bisa memanfaatkan informasi dan prakiraan cuaca dengan baik. Pasalnya, pranata mangsa yang selama ini kerap dijadikan acuan petani seringkali meleset akibat perubahan iklim.

“Pentingnya memahami cuaca dan iklim itu agar para petani dan penyuluh pertanian bisa memilih waktu tanam yang tepat, jenis dan pola tanaman yang seperti apa, agar produksi panennya lebih tahan dan lebih tangguh terhadap fenomena cuaca dan iklim yang akhir-akhir ini semakin tidak terduga," ucapnya.

Dia menyebut informasi terkait prediksi dan prakiraan cuaca serta peringatan dini cuaca ekstrem dapat diterima secara real time melalui aplikasi Info BMKG. Para petani dan penyuluh pertanian lanjut Dwikorita, dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mengantisipasi dan meminimalkan kerugian akibat salah tanam.

“Di sana anda bisa melihat prakiraan cuaca untuk tujuh hari kedepan seperti apa, suhu udaranya berapa, hujannya bagaimana, kecepatan anginnya, dan lain sebagainya,” ucapnya.

Dwikorita berharap petani dan penyuluh dapat memaksimalkan teknologi digital dalam mengantisipasi perubahan iklim terhadap kelangsungan pertanian.


Editor : Nani Suherni