Demi Lahan Produktif, Petani Pekalongan Habiskan Rp6 Juta Lebih Buat Sumur Bor

Suryono Sukarno ยท Jumat, 28 Agustus 2020 - 16:15 WIB
Demi Lahan Produktif, Petani Pekalongan Habiskan Rp6 Juta Lebih Buat Sumur Bor
Petani Pekalongan membuat sumur bor atau pantek (Foto: iNews/Suryono Sukarno)

PEKALONGAN, iNews.id - Kemarau panjang membuat lahan persawahan di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mengering. Padi sebagian besar telah panen sehingga lahan dibiarkan nganggur sementara tanah sawah terlihat pecah-pecah  karena tak ada air lagi.

Sebagian petani berusaha untuk tetap memanfaatkan lahan sawah untuk memenuhi kebutuhan. Mereka pun membuat sumur pantek atau sumur bor di lahan persawahan. Hal ini dilakukan agar bisa tetap mengolah lahannya.  Lahan kering dialiri dari sumur buatan ini sehingga bisa untuk menanam . 

"Kami membuat sumur agar lahan tidak nganggur, dan kami tanami jagung, hal ini gar lahan tidak terbengkelai dan bisa dimanfaatkan, " kata Taryani salah satu petani di Sragi, Jumat (28/8/2020).

Rencananya, lahan padi diganti menjadi jagung agar biaya lebih hemat serta kebutuhan air juga tidak banyak. Namun, untuk membuat sumur pantek, petani bisa menghabiskan lebih dari Rp6 juta.

"Untuk membuat sumur pantek atau sumur bor berkisar Rp1,5 juta ditambah mesin pompa sekitar Rp5 juta. Untuk operasional pompa setiap penyedotan dibutuhkan BBM, bensin pertalite, sekitar Rp250.000. Namun bisa juga sewa mesin sekitar 8 jam Rp200.000," ucap Ahmad ketua kelompok Tani Makmur.

Ahmad mengaku pengeluaran masa tanam di musim kemarau membutuhkan biaya malah. Petani harus menyiram lahan seminggu dua sampai 3 kali selama tiga bulan.

"Sebenarnya biaya lahan saat kemarau ini juga cukup tinggi, namun kami tetap melakukan penanaman karena untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari," ucapnya. 

Namun bagi petani yang kesulitan modal, mereka membiarkan lahan mengering tak ada tanaman sama sekali. Irigasi dari bendungan sudah tidak mengalir karena air sungai juga sudah mengering.


Editor : Nani Suherni