Filosofi Ketupat di Hari Raya Idul Fitri

Kastolani · Minggu, 24 Mei 2020 - 04:05 WIB
Filosofi Ketupat di Hari Raya Idul Fitri
Ilustrasi ketupat. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Setelah sebulan penuh berpuasa di Bulan Ramadan, umat Islam di seluruh penjuru dunia hari ini, Minggu (24/5/2020) merayakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Takbir, tasbih dan tahmid berkumandang dan bersahut-sahutan di tiap masjid, musala, surau, maupun di rumah. Muslim mengumandangkan kebesaran Allah SWT sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan.

Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri identik dengan ketupat. Makanan khas yang terbuat dari beras dan berbungkus janur atau daun kelapa yang masih muda berbentuk segiempat itu ternyata bukan sekadar hidangan yang wajib ada di momen Lebaran.

Dikutip dari Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah0KTB, ketupat atau kupat ternyata memiliki filosofi yang tinggi. Dalam bahasa Jawa, kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan).

Selain kupat, tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman, yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, masih membudaya hingga kini. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, serta memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khsusnya ridho orang tua.

Sementara,laku papat (empat tindakan) dalam perayaan Lebaran yang dimaksud adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.

Sebulan lamanya umat muslim berpuasa, Lebaran menjadi ajang ditutupnya Ramadhan. Lebaran juga berakar dari kata lebar. Maknanya bahwa di hari Lebaran ini pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan bermakna meluber atau melimpah, yakni sebagai simbol anjuran bersedekahbagi kaum miskin. Pengeluaran zakat fitrah menjelang Lebaran pun selain menjadi ritual wajib umat muslim, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia. Khususnya dalam mengangkat derajat saudara-saudara kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Leburan berarti habis dan melebur. Maksudnya pada momen Lebaran ini dosa dan kesalahan kita akan melebur habis. Karena setiap umat dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan sebagai penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain. Hati nan putih pertanda hati nan suci.

Di hari nan fitri ini, mari  putihkan hati, sucikan diri, dan gapai ridho Ilahi dengan banyak membaca takbir.

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ

Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar.

Artinya, “Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar.”

اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ اِلَّا اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَر وَللهِ الحَمْدُ

Allaahu akbar kabiiraa, walhamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa, laa ilaaha illallaahu wa laa na‘budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahud diina wa law karihal kaafiruun, laa ilaaha illallaahu wahdah, shadaqa wa‘dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzaaba wahdah, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar walillaahil hamdu.

Artinya, “Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore. Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya. Tiada tuhan selain Allah yang esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memorak-porandakan pasukan musuh. Tiada tuhan selain Allah. Allah mahabesar dan hanya bagi Allah segala puji.”

Wallahu A'lam.


Editor : Kastolani Marzuki