Guru Besar UNS Paparkan Jejak Warisan Rempah dan Jamu dalam Manuskrip Jawa Kuno

Nani Suherni ยท Senin, 06 Juli 2020 - 07:27 WIB
Guru Besar UNS Paparkan Jejak Warisan Rempah dan Jamu dalam Manuskrip Jawa Kuno
Ilustrasi rempah-rempah dan jamu. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Prof Sahid Teguh Widodo membagikan informasi mengenai jejak warisan rempah dan jamu dalam manuskrip Jawa kuno. Hal tersebut disampaikan dalam webinar Jalur Rempah yang diadakan Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui aplikasi Zoom Meeting dan siaran kanal Youtube selama 2 jam.

Prof Sahid yang saat ini juga menjabat sebagai Kepala Pusat Unggulan Iptek (PUI) Javanologi UNS menyampaikan, Indonesia memiliki benda warisan yang banyak dan beragam, terutama berkaitan dengan jejak rempah. Karena itu, Javanologi UNS berusaha membuat kegiatan riset tentang pelacakan pengetahuan warisan serta publikasi melalui segala macam bentuk pertemuan akademik dan juga bagian dari kegiatan tri dharma perguruan tinggi.

“Banyak naskah di tempat kami yang memuat informasi pengobatan. Kami juga mendapat bantuan berupa lontar usada. Namun, kesulitan kami saat ini yakni dalam menerjemahkan. Masih banyak tahap yang harus dilakukan mengingat kondisi naskah sudah rusak karena berusia ratusan tahun," katanya.

"Bahasanya juga bahasa lama seperti Bali kuno, Jawa kuno. Ada juga bahasa dengan idiom yang sulit diterangkan secara semiotik. Terdapat banyak lakuna, adisi, semuanya butuh waktu untuk membongkar isi manuskrip tersebut,” ucapnya.

Indonesia merupakan negeri yang gemah ripah loh jinawi, suatu idiom Jawa yang artinya negeri yang tenteram, makmur dan subur tanahnya sehingga menjadi surga bagi tanaman obat. Dalam materi yang dipaparkan, jejak rempah yang dimaksud merujuk pada data atau informasi yang terdapat dalam berbagai manuskrip Jawa kuno.

"Kebiasaan meracik dan minum jamu telah ditemukan dalam relief Candi Borobudur tahun 825 M pada Kamadatu dan Rupadatu. Dalam relief, menceritakan masyarakat masa lampau meracik dan minum jamu sebagai suatu kebiasaan. Selain itu terdapat juga pada Candi Prambanan tahun 850 M, Penataran 1200 M, Sukuh 1437 M, Prasasti Tegalwangi (Masa Kerajaan Hindu dan Buddha pascaabad ke-15),” ujar Prof Sahid.

Menurutnya, terdapat beberapa manuskrip Jawa kuno yang sedang dikerjakan tim PUI Javanologi UNS, antara lain Kagungan Dalem Buku Racikan Jampi-Jampi Jawi Jilid II, Serat Buk Jampi-Jampi Jawi, Kawruh Bab Jampi Jawi, Usada Keling, Tenung Saptawara, Serat Centhini dan lain-lain. Pada Serat Centhini, meski berisi banyak cerita sastra tetapi didapatkan informasi mengenai jenis jamu dan cerita untuk memberdayakan jamu.

“Saya kira optimistis itu muncul setelah membaca serat ini. Jamu-jamu tersebut terselip dalam cerita-cerita, contoh pada bagian pesta perkawinan itu ada sesaji dan jamu kekuatan. Kemudian pada Primbon Jampi Jawi juga terdapat banyak ciri menonjol yang tidak logis. Terdapat banyak gugon tuhon yang dipercaya, tetapi mengikuti kawruh kedokteran. Terdapat 25 bab yang memuat 233 resep obat orang sakit. Selain itu juga memuat manfaat dan kegunaan rempah pada bab 26-42,” katanya.

Prof Sahid juga mengungkapkan kendala dalam mendapatkan informasi jamu pada masa lampau. Yng paling utama yakni peristilahan bahasa, segi bahan, takaran dan pengolahan.

"Dalam resep bahan yang digunakan hanya 4 lembar, tapi kami tidak tahu itu lembar ke berapa, umur daunnya tidak tahu. Kemudian dari aspek takaran seperti setekem, padahal tekeman satu orang dengan orang lain pasti berbeda. Pada aspek takaran ada sejungkut, sedimpit, senyari, ini kan susah sekali. Contoh dari aspek pengolahan yakni dipipih, tapi seberapa halusnya kita tidak tahu,” ucapnya.

Beberapa upaya yang dilakukan Javanologi UNS terkait rempah dalam manuskrip Jawa kuno antara lain memodernisasi produk jamu dan perluasan keragaman. Selain itu juga melakukan penguatan upaya penggunaan rempah sebagai jamu atau obat tradisional dalam pelayanan pengobatan formal di Tanah Air melalui saintifikasi jamu. Kemudian mengembangkan penelitian filologis manuskrip Jawa kuno tentang jamu atau obat tradisional hingga bentuk  produk digitalnya. Kemudian pengenalan obat sejak dini melalui berbagai media untuk anak-anak Indonesia dan sosialisasi jamu bagi masyarakat secara luas.


Editor : Donald Karouw