Ini Cerita Korban Selamat yang Duduk di Depan Panggung Seventeen

Tata Rahmanta ยท Senin, 24 Desember 2018 - 15:11 WIB
Ini Cerita Korban Selamat yang Duduk di Depan Panggung Seventeen
Didik Fauzi, salah satu korban selamat pascatsunami Selat Sunda menerjang Pantai Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten. (Foto: iNews/Tata Rahmanta).

BOYOLALI, iNews.id - Dia ada di sana ketika peristiwa nahas itu terjadi. Duduk di depan panggung bersama istri dan kedua anaknya. Tiba-tiba saja "Brak". Gelombang tinggi menghamtam panggung.

Adalah Didik Fauzi, salah satu korban selamat pascatsunami Selat Sunda menerjang Pantai Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten. Waktu itu, Didik bersama keluarga menjadi peserta family gathering Perusahaan Listrik Negara (PLN). Di depan matanya, air laut tumpah.

"Air datang, yang saya pikir pertama, panggung roboh. Belum sempat berpikir lama, saya terlempar," kata Didik di rumahnya, Desa Kuwiran, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Senin (24/12/2018) siang.

Dia hanyut terbawa arus. Kira-kira 500 meter dia terhempas dari tempatnya duduk beberapa menit lalu, di depan panggung. Didik masih ingat peristiwa itu secara jelas. Adegan per adegannya.

"Saya melewati hampir 30 pohon di pinggir jalan, saya ingat karena saya berusaha pegang batang pohon tersebut satu per satu, tapi selalu lepas. Sampai pohon yang terakhir, bisa saya genggam," ujarnya.

Pria ini berpegangan pada pohon tersebut. Sampai suatu ketika, dia sadar sudah ada di atas atap bangunan, seperti terdampar. Samar-samar, dia mendengar suara anaknya yang besar. Berteriak, memanggil dirinya "Ayah...ayah." Didik berenang ke arah sumber suara.

"Saya bawa anak saya berenang ke pinggir," kata dia.

Hanya si sulung yang bersamanya. Dia kehilangan jejak istri dan anak bungsunya. Entah di mana mereka berada, Didik tidak tahu. Saat air mulai surut, dia kemudian mencari tahu keberadaan dan kondisi anggota keluarganya yang juga tersapu gelombang air.

Tapi kabar yang dia peroleh kemudian berbeda dari harapan. Jauh sekali. Istrinya, Briliyan Parmawati dan si bungsu, Fahmi Dahlan, meninggal dunia. Didik hanya bisa menelan ludah. Air mata meleleh di pipi.

Hari ini, Senin, kedua korban tsunami Selat Sunda asal Kabupaten Boyolali tersebut tiba di rumah duka. Jasad Parmawati dan Fahmi terlebih dulu dibawa ke Masjid Kuwiran untuk disalatkan. Keduanya akan dimakamkan di kawasan pemakaman Desa Sambi, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali.

Dia berusaha tegar menerima kenyataan ini. Mencoba tersenyum kepada tamu yang datang. Tapi, mata Didik masih merah. Sembab. Satu per satu sanak saudara dan kerabat dia peluknya. Dadanya agak sesak terasa. Apalagi ketika berdiri di depan dua peti mati coklat itu. Menjadi imam salat jenazah.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal