get app
inews
Aa Text
Read Next : Terungkap! Calon Praja IPDN asal Maluku Utara Meninggal saat Diksar akibat Henti Jantung

Kasus Henti Jantung di Usia Muda, Begini Penjelasan Pakar RS UNS

Kamis, 27 Januari 2022 - 13:19:00 WIB
Kasus Henti Jantung di Usia Muda, Begini Penjelasan Pakar RS UNS
Dokter spesialis jantung Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Habibie Arifianto, dr SpJP (K) M.Kes. Foto: Ist.

SOLO, iNews.id - Topik soal kesehatan jantung kembali menjadi perhatian setelah Maura Magnalia Madyaratri, anak anggota DPR Nurul Arifin meninggal dunia. Kepergian Maura mengejutkan banyak orang sebab dia meninggal dunia di usia 27 tahun karena diduga akibat henti jantung

Dokter spesialis jantung Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Habibie Arifianto, dr SpJP (K) M.Kes mengatakan, kasus henti jantung biasanya disebabkan oleh faktor genetik atau keturunan.

Kasus henti jantung yang terbanyak adalah gangguan aktivitas listrik jantung. Ini bisa mengakibatkan gangguan irama fatal yang membuat seseorang pingsan hingga berujung kepada kematian.

"Kalau terminologi henti jantung jelas fatal, karena saat terjadi henti jantung otomatis fungsi jantung sebagai pompa darah keseluruhan tubuh akan terhenti," ujar Habibie melalui siaran pers Humas UNS, Kamis (27/1/2022). 

Ia menerangkan, saat pasukan oksigen terhenti maka nutrisi ke otak, organ tubuh lainnya, hingga ke otot jantung juga akan berhenti. Dan ini akibatnya bisa fatal. 

"Biasanya henti jantung disebut juga cardiac arrest atau sudden cardiac death. Saat terjadi gangguan irama jantung yang fatal, hanya membutuhkan beberapa detik hingga pasien akan bergejala, biasanya pingsan, kejang dan pasien akan kolaps," ujarnya.

Apabila ada kejadian seseorang mengalami henti jantung, maka harus segera dilakukan pijat jantung luar. Cara ini disebut dr Habibie memungkinkan korban untuk dapat mengembalikan sirkulasi darah hingga sadar kembali.

Namun apabila tidak ada yang membantu untuk melakukan pijat jantung luar, tentu gangguan irama akan berlanjut hingga pasien ditemukan meninggal dunia.

Habibie menyampaikan dua hal ini bisa memicu perangsangan aktivitas sistem saraf simpatis. Hal ini memang bertanggung jawab terhadap peningkatan aktivitas kelistrikan jantung dan akan berujung pada gangguan irama jantung yang sifatnya fatal.

Sementara itu, jika dilihat dari perbedaan henti jantung dan serangan jantung, dr Habibie menyebut keduanya adalah hal yang berbeda. "Serangan jantung adalah terminologi yang digunakan untuk kejadian tersumbatnya pembuluh darah koroner yang mendadak yang biasanya mengakibatkan nyeri dada hebat," ucapnya. 

Sedangkan henti jantung biasanya diakibatkan karena gangguan irama yang fatal dan bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti serangan jantung, faktor genetik atau keturunan, hingga gagal jantung. 

"Dan henti jantung biasanya lebih mematikan dibanding serangan jantung," tuturnya. 

Henti jantung di usia muda, lanjut dr Habibie, sebenarnya merupakan kasus yang sangat jarang. Apalagi jika berkaitan dengan gangguan irama. Beberapa penyakit genetik atau keturunan yang dapat mengakibatkan henti jantung mendadak, di antaranya Sindrom Brugada, Sindrom Long QT, dan kardiomiopati hipertrofik.

Karena henti jantung adalah masalah kesehatan yang serius, maka cara penanganannya pun tak boleh disepelekan. Bila menyaksikan korban mengalami henti jantung mendadak, kita bisa meminta bantuan tim medis atau dibawakan alat Automatic Electrical Defibrillator (AED) yang sudah banyak tersedia di tempat umum, seperti bandara dan pusat perbelanjaan.

Sambil menunggu bantuan datang, maka bisa memberikan bantuan hidup dasar dengan pijat jantung luar, resusitasi jantung. Langkah ini sangat penting bagi anggota masyarakat untuk memahami cara-cara bantuan hidup dasar. 

Pemangku kepentingan diminta untuk menyediakan AED sehingga dapat membantu korban dengan henti jantung mendadak. Untuk langkah pencegahannya, apabila diketahui memiliki riwayat keluarga yang meninggal mendadak di usia muda atau riwayat sering pingsan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter jantung.

"Tujuannya untuk dicari kemungkinan adanya gangguan irama atau struktur jantung yang dapat menyebabkan henti jantung di masa mendatang," katanya. 

Editor: Ary Wahyu Wibowo

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut