KH Maimoen Zubair Wafat, Cuaca Makkah Teduh Berawan

Antara ยท Rabu, 07 Agustus 2019 - 00:45 WIB
KH Maimoen Zubair Wafat, Cuaca Makkah Teduh Berawan
Cuaca di Kota Makkah, Arab Saudi teduh dan berawan saat KH Maimoen Zubair wafat. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Cuaca dan suhu di Makkah tampak begitu ramah tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu berada di atas 40 derajat Celcius pada siang hari saat KH Maimoen Zubair wafat di Kota Suci itu, Selasa (6/8/2019).

Cuaca di Tanah Suci itu cenderung teduh berawan bahkan sempat gerimis.

Berdasarkan pantauan di Kota Mekkah, sejak Selasa selepas subuh suhu di Mekkah cenderung seperti mengalami anomali.

Hujan gerimis sempat terjadi setelah subuh atau hampir bertepatan dengan berpulangnya KH Maimoen Zubair yang mengembuskan napas terakhirnya pada sekitar pukul 04.17 waktu setempat di RS Al Noor, Makkah.

Setelah itu, sepanjang hari hingga pemakaman rampung di Ma’la udara juga tidak terlampau terik.

Suhu berada di kisaran 29 derajat Celcius dan saat puncak siang hari suhu tertinggi hanya 37 derajat Celcius. Padahal hari-hari biasanya suhu di Makkah yang pada Agustus 2019 telah memasuki musim panas hampir tidak pernah di bawah 40 derajat Celcius.

Bahkan pernah mencapai di atas 50 derajat Celcius pada beberapa pekan lalu.

Saat KH Maimoen Zubair yang akrab disapa Mbah Moen dimakamkan, ribuan orang yang sebagian besar adalah jamaah dari Indonesia yang sedang dalam rangkaian ibadah haji turut serta memadati Pemakaman Ma’la, Makkah.

Mereka rela berdesakan dan berangkat secara swadaya ketika bus-bus shalawat yang biasanya melayani angkutan jamaah berhenti beroperasi untuk persiapan masyair.

Sebagian dari mereka juga mengikuti perjalanan dari mulai jenazah Mbah Moen diberangkatkan dari RS Al Noor menuju tempat dimandikannya di Masjid Muhajirin Khalidiyah kemudian disemayamkan hingga pukul 10.30 waktu Makkah di Kantor Urusan Haji Indonesia di Syisyah.

Mereka mengikuti jenazah ulama karismatik asal Rembang, Jateng hingga ke Masjidil Haram untuk disalatkan baru kemudian setelah zuhur diberangkatkan ke Ma’la.

Jenazah Mbah Moen tiba di Ma’la setelah waktu salat zuhur sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Ketika sampai di dekat liang lahat, jamaah yang belum sempat melakukan salat jenazah dipersilakan untuk menyalati Mbah Moen.

Jenazah kemudian dibawa ke liat lahat untuk dimakamkan. Suasana di sekitar pemakaman sangat ramai dan berdesakan.

Sejumlah tokoh turut serta mengantarkan kepergian Mbah Moen. Salah satunya KH Syarif Rahmat yang menyebut Mbah Moen sebagai gunung yang tinggi sehingga wajar jika ia senantiasa meneduhi siapa pun.

“Mbah Moen adalah gunung yang tinggi, di dalam dirinya ada Alquran dan hadist dia tempat mengadu setiap orang, siapa pun dia terima. Hari ini gunung itu sudah diambil oleh Allah,” katanya.

Kiai Syarif berharap para penerusnya bisa berperan setidaknya menjadi AC minimal kipas angin yang menyejukkan ketika tidak bisa menjadi gunung yang tinggi.


Editor : Kastolani Marzuki