Kisah Perjuangan Hidup 13 Sahabat Difabel yang Menyentuh Hati
SEMARANG, iNews.id – Hidup adalah perjuangan, dan perjuangan itu membutuhkan pengorbanan. Bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik, tentu akan sangat merasakan bagaimana harus berjuang dan berkorban menapaki kehidupan sehari-hari.
Kondisi itu telah dilakoni 13 sahabat difabel. Mereka mencurahkan kisah perjuangan hidupnya sejak lahir hingga mampu mandiri dalam sebuah antologi cerpen berlabel Kidung Harapan Menembus Batas. Mereka kini tersebar tinggal di Semarang, Ungaran, Malang, Kota Batu, Bandung, hingga Tangerang.
Mereka menyandang berbagai keterbatasan mulai dari tunanetra, autisma, disabilitas interlektual, austim spectrum disorder, sampai penyakit langka Friederich's Ataxia yang di dunia ini disandang hanya oleh 7.000 orang.
Sekadar informasi, antologi cerpen diluncurkan saat acara Webinar Ngobrol Santai "Kidung Harapan Menembus Batas" yang digelar oleh Yayasan Setara di Semarang yang membahas tentang perlindungan dan peningkatan keterampilan anak selama masa pandemi Covid-19, dikutip Jumat (1/1/2021). Yayasan Setara merupakan mitra Unicef yang sangat peduli terhadap perlindungan anak.
Kisah mereka sungguh menyentuh hati. Pendampingan para orangtua juga merupakan kisah rasa cinta tiada tara untuk buah hatinya. Seperti Naufal Asy Syadad yang tinggal di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Pemuda ini menyandang autisma. Orangtuanya mengetahui ketika ia berusia 18 bulan setelah melalui terapi.
Pada usia 4 tahun, bakat Naufal di bidang matematika diketahui orangtuanya. Ternyata Naufal kecil ini ternyata juga piawai bermain piano maupun menggambar. Namun sikapnya yang ingin segalanya sempurna (perfeksionis) menjadikan ia sering menangis bila merasa gagal di suatu bidang.
Orangtuanya pun menemukan solusi. Ia sering mengikutkan Naufal di berbagai lomba matematika. Kemenangan dan kekalahan itu hal yang biasa dan ia harus mampu menerima.
Prestasi matematika Naufal memang luar biasa. Pada usia 11 tahun Naufal mendapatkan juara nasionalnya yang pertama, yaitu lomba Kompetisi Matematika Pasiad VII. Prestasi-prestasi Naufal lainnya adalah Naufal terpilih sebagai sosok difabel muda yang bisa mengikuti Training Workshop on Initiators for Self-Help Group of Persons with Disabilities towards Sustainable Community Development.
Perilakunya yang kadang-kadang masih sulit diterima oleh teman sebayanya menyebabkan Naufal mengalami benturan dengan teman-teman sekolahnya, hingga akhirnya ketika di SMA, ia pernah dikeroyok, dipukul, dan dibully secara beramai-ramai oleh rekan-rekannya. Beruntung ia tidak mengalami trauma. Kini ia kuliah di sebuah kampus di Semarang dan dengan enteng ia mengakui sebagai pemuda mantan penyandang autisma.
Kisah lainnya adalah Yeni Endah Sang Sastrawan, seorang gadis menyandang penyakit langka yang disebut Friederich's Ataxis. Kakinya selalu jinjit. Di dunia ini hanya ada 7.000 orang yang mengalami seperti Yeni.
Namun bagi Yeni, penderitaan yang ia alami tidak menyurutkan tekadnya untuk berkembang. Gadis yang tinggal di Banyumanik, Kota Semarang ini sejak tahun 2015 telah aktif menulis. Ia mendapatkan pelatihan menulis jurnalistik di Rumah D Semarang. Kemudian berlanjut ke penulisan kreatif.
Meski harus duduk di kurasi roda, ia terus berkarya. Hasilnya, hingga tahun 2020 ini ia telah menelorkan 15 buku antologi. Ada 21 cerita anak, 6 cerita remaja, 2 cerita misteri, dan 6 cerita lucu.
Kemudian, Kayla Salmaa Nugroho, 16 tahun terlahir sebagai anak penyandang Intelektual Disabilitas. Ia mengalami keterlambatan berjalan, berbicara dan keterlambatan motorik lainnya pada usia 2 tahun. Ibunya kemudian memutuskan berhenti bekerja untuk mendampingi putrinya. Gadis ini menjalani home schooling hingga kelas 7.
Dalam mendampingi putrinya, ibunda Kayla mengajari melukis di atas kanvas. Akhirnya ia belajar melukis dari guru lukis yang diundang ke rumahnya. Gadis ini merasa senang ketika lukisannya ada beberapa yang sudah dicetak di mug, di masker, dan di kaos. Ayahnya kebetulan juga pandai mendesign, sehingga lukisannya terlihat sangat indah ketika didesign. Hasil karyanya dijual dan Kayla mampu menabung.
Kayla juga sempat menghadiahkan lukisan dan roncean tasbihnya kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia ingin bisa seperti Ganjar Pranowo yang dikenal banyak orang. Kini Kayla disibukkan dengan kegiatan membuat kue brownies cup yang ia jual berdasar pesanan saja atau pre order.
Tak kalah heroik, kisah Adi Gunawan (33) merupakan tunanetra pendiri Institut Adi Gunawan di Malang, Jawa Timur yang ia dedikasikan membantu sesama tunanetra.
Ia dilahirkan dengan memiliki kondisi hambatan penglihatan yang pada saat ini disebut tunanetra low vision. Pada masa kanak-kanak hingga usia 6 tahun, ia tidak mampu melihat jauh maupun melihat benda-benda kecil. Jika malam hari ia tidak mampu melihat sama sekali. Semuanya gelap.
Meski begitu Adi mampu menamatkan sekolah di sekolah umum hingga lulus SMP. Akan tetapi ketika akan masuk ke SMA, pihak sekolah menolak karena ragu Adi mampu mengikuti pelajaran dengan kondisi matanya yang tidak mampu melihat.
Karena kondisi ekonomi orangtuanya kurang mampu, maka pupus sudah harapan Adi untuk melanjutkan sekolah. Selama enam tahun ia tidak mampu mengembangkan diri.
Namun Tuhan memberikan mukjizat. Seorang saudara sepupunya datang dengan membawa gitar. Mendengar suara denting gitar, Adi tergugah. Ia merasakan suara itu sangat merdu. Ia ingin belajar. Bahkan ayahnya meminta sepupunya untuk meminjamkan gitarnya agar Adi bisa belajar. Sang ayah bahkan membuatkan chord-chord sederhana agar Adi mampu belajar gitar.
Dari belajar gitar itulah, dunia Adi kembali terbuka. Semangat hidupnya kembali menyala. Bakatnya bermusik bersambut. Ia memiliki teman-teman baru. Bersama pemusik yang lainnya secara tim, Adi sering tampil di hadapan jemaat gereja untuk mengiringi ibadah setiap hari Minggu. Ia pun mampu memainkan keyboard, bass, dan drum secara otodidak. Bahkan ia menamatkan SMA-nya lewat program kesetaraan Kejar Paket C pada tahun 2011 di usianya yang ke-24.
Langkahnya terus belanjut. Pada tahun 2012 ia menemukan teknologi screen reader atau pembaca layer yang dapat di-install pada komputer atau laptop sehingga perangkat elektronik tersebut dapat mengeluarkan suara saat tombol-tombol keyboard komputer tersebut ditekan.
Ia merasa sangat senang dan terharu karena dapat mengoperasikan komputer dan mendengarkan setiap kata yang ia ketik serta mampu membaca sebuah dokumen melalui suara. Ia pun akhirnya dapat membaca berbagai informasi di internet yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
Adi lalu meneruskan kuliah di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Pokok Anggur Jakarta dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Kristen secara jarak jauh agar ia dapat kuliah sambil bekerja. Ia adalah satu-satunya mahasiswa tunanetra di universitas tersebut.
Pada tahun 2014 ia menggunakan ponsel Android yang dilengkapi dengan screen reader yang disebut ponsel bicara, sehingga saat layer ponsel tersebut disentuh akan dapat mengeluarkan suara, sama seperti komputer bicara yang telah ia pakai sebelumnya. Ia lulus kuliah tahun 2016 meraih gelar Sarjana Pendidikan. Adi menjadi mahasiswa teladan dan menjadi inspirasi bagi adik-adik kelasnya.
Adi juga gencar berusaha membantu sahabat tunanetra lainnya di Malang. Mengajari mereka melek teknologi menggunakan ponsel bicara hingga mengoperasikan komputer agar mampu meraih kehidupan lebih baik. Sebab kebanyakan tunanetra di Malang berprofesi menjadi tukang pijat, penjual kerupuk, hingga pengamen.
Pemuda ini kemudian mendirikan Institut Adi Gunawan pada tahun 2018 yang ia dedikasikan membantu sahabat tunanetra agar mampu lebih mengembangkan diri.
Kisah lainnya adalah Ahmad Syihab Athaillah yang lahir prematur lewat operasi cesar pada tahun 1997 dengan berat badan 1,7 kg. Bayi yang lahir prematur rentan terkena Retinopathy of Prematurity.
Menurut dokter, ini istilah medis yang biasa terjadi pada kelahiran prematur, bisa bersifat ringan hingga berat. Jika sifatnya berat, penyakit ini dapat menyebabkan kebutaan seperti yang dialami Syihab.
Orang tua Syihab telah berupaya hingga ke Bandung agar anaknya tertolong dari kebutaan. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil. Akan tetapi curahan cinta orangtua terus mengalir. Mereka mendampingi Syihab.
Secara keseluruhan tidak ada masalah, tapi ada beberapa perilaku yang harus diterapi, karena ia mengalami gangguan penglihatan, jadi tidak mengetahui bagaimana orang bertingkah laku. Mulai berjalan, duduk, cara makan, cara minum, cara ke kamar mandi dan bertegur sapa.
Syihab kembali ke Malang dan menjalani terapi lanjutan di Mutiara Hati RS Unisma Malang. Di sana ia belajar banyak hal yang berkaitan dengan prilaku dan kemandirian. Ia juga belajar banyak hal dan dilakukan tes bakat. Akhirnya terlihat bakat Syihab di bidang menyanyi dan mengaji.
Sejak kecil ia suka mendengar musik karena mempunyai kelebihan di pendengaran. Ia juga punya daya ingat yang sangat kuat. Lantas orangtuanya mengarahkan kemampuan Syihab mengisi memory card pada MP3 dengan surat surat pendek Al Qur'an.
Syihab ternyata suka dan selalu mendengarkan MP3 yang berisi murottal Al Qur’an juz 30 tersebut dengan sangat khidmat. Lantunan ayat -ayat suci Al Qur’an dari berbagai suara didengarkan setiap hari dan berulang kali. Sejak bangun pagi dan menjelang tidur malam.
Hingga akhirnya orangtua Syihab merasa ikhlas dalam menerima segala cobaan yang diberikan Allah dan terus menggali potensi buah hatinya. Syihab ternyata memiliki kemampuan menghafal Al Qur'an. Ia dapat menirukan lantunan ayat Al Qur'an yang ia dengar.
Setelah lulus SD, ia memutuskan untuk fokus di tahfidz dan menuntaskan hafalannya sampai 30 juz. Syihab memilih Home Schooling agar memiliki lebih banyak waktu untuk menghafal Al Qur’an serta belajar keterampilan lainnya, seperti huruf braille, laptop dan ponsel.
Remaja berusia 13 ini kini telah mampu hafal17 juz. Ia belajar di SMP Islam Al Azhar Tulungagung. Sedangkan semua proses pembelajaran jarak jauh dan setor hafalan dilakukan di Pondok Pesantren Roudhotul Qur’an.
Beberapa prestasi dan acara yang pernah ia ikuti seperti mengaji dalam pembukaan acara pengajian ustadz-ustadz terkenal seperti ustad Yusuf Mansur, Aa Gym, Syech Ali Jaber dan yang lainnya. Menjadi bintang tamu pada acara MTQ Mahasiswa Tingkat Nasional di Universitas Brawijaya, juga Menjadi Duta Quran PPPA Darul Quran.
Sementara, di dalam kisah para difabel itu juga menceritakan pendampingan orangtua mereka yang sangat luar biasa sehingga mampu menyemangati dan membuat buah hati mereka mandiri dengan keistimewaannya.
Novi Dibyantari dari Sahabat Difabel, sosok yang selalu mendampingi para difabel di Roemah Difabel Semarang menjelaskan bahwa antologi cerpen itu dapat terwujud karena kerjasama banyak pihak.
"Unicef pada Februari 2020 lalu. Kemudian berlanjut pada Juli, September, lalu ada webinar. Akhirnya kami tetap mampu berpikir kreatif meski pandemi. Kami mengaambil topik tentang kecakapan hidup. Nondifabel dan difabel harus punya semangat yang sama. Tantangannya memang berbeda, kesulitannya pun berbeda. Oleh karena itu hasilnya juga berbeda," kata Novi.
Lalu pada tiga bulan terakhir tahun 2020 ada tantangan membuat antologi cerpen. "Dalam waktu tiga bulan dengan dukungan para penulis, orangtua dari para penulis, Yayasan Setara, dan Jurnalis Sahabat Anak; maka antologi cerpen itu terwujud," ujarnya.
Arie Rukmantara, Kepala Perwakilan Unicef Jawa - Bali mengatakan jalan literasi bagi anak-anak istimewa menjadi kawah yang bisa dinikmati semua orang.
"Mereka berbagi kisahnya, kesuksesannya, senyumannya dan kelindan rasa yang terus dipegang sampai saat ini. Kita semua percaya, cerita-cerita baik itu harus banyak dibagi. Biar kata-kata dalam bingkai cerita itu menerobos masuk ke dinding-dinding rumah, sekat-sekat penghalang dan pagar-pagar yang terpendam," kata Arie.
“Suara anak-anak Rumah D di Semarang - Jawa Tengah akan menghiasi angkasa dan terbang ke berbagai pelosok Indonesia bahkan ke berbagai negara lainnya. Cerita dan rangkaian kata-kata dalam Buku Antologi Cerpen Anak 'Kidung Harapan Menembus Batas' tak akan sirna dalam lekuk zaman,” kata Arie.
“Biarkan suara mereka terus nyaring dan menggandengkan tangan anak-anak di pelosok negeri ini untuk tak lelah membungkus mimpi danmerajut harapan," katanya.
Editor: Ahmad Antoni