Kisah Tsa'labah yang Binasa karena Menolak Zakat (2-Habis)

Kastolani · Rabu, 20 Mei 2020 - 16:03 WIB
Kisah Tsa'labah yang Binasa karena Menolak Zakat (2-Habis)
Ilustrasi kisah Tsa'labah. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Kisah Tsa'labah ibnu Hatib Al Ansari ini patut dijadikan contoh dan diambil hikmahnya bagi semua orang terutama kaum Muslim agar tidak terlena dan kikir untuk berzakat ketika sudah mampu.

Sebelum menjadi orang yang kaya raya, Tsa'labah hidup dalam kemiskinan. Bahkan, diriwayatkan kain untuk salat harus dipakai bergantian dengan istrinya karena tidak ada pakaian lagi yang dimiliki.

Penyesalan Tsa'labah dengan meraupkan debu ke kepalanya setelah zakatnya ditolak Rasulullah SAW lantaran mengusir petugas pemungut zakat. Rasulullah Saw bersabda: Ini adalah balasan amal perbuatanmu. Aku telah memerintah­kannya kepadamu, tetapi kamu tidak menaatinya.

Setelah Rasulullah Saw menolak zakatnya, maka Tsa'labah kembali ke rumah­nya, dan Rasulullah SAW wafat tanpa menerima suatu zakat pun darinya.

Kemudian Tsa'labah datang kepada Abu Bakar ra ketika menjadi khalifah, lalu berkata kepadanya. "Sesungguhnya engkau telah menge­tahui kedudukanku di sisi Rasulullah dan kedudukanku di kalangan orang-orang Ansar, maka terimalah zakatku ini.

Abu Bakar berkata, Rasulullah Saw. tidak mau menerimanya darimu (lalu bagaimana aku mau menerimanya darimu)." Abu Bakar menolak dan tidak mau menerimanya. Dan Abu Bakar wafat tanpa mau menerima zakat darinya.

Ketika Umar ra menjadi khalifah, Tsa'labah datang kepadanya dan berkata, Wahai Amirul Mu’minin, terimalah zakatku ini. Tetapi Khalifah Umar ra menjawab, Rasulullah Saw tidak mau menerimanya, demi­kian pula Abu Bakar. Lalu bagaimana aku dapat menerimanya? Khalifah Umar ra wafat tanpa mau menerimanya.

Di saat Usman menjabat sebagai khalifah, Ts'alabah datang kepadanya dan berkata, Terimalah zakatku ini. Khalifah Usman menjawab, Rasulullah Saw tidak mau menerimanya, begitu pula Abu Bakar dan Umar, maka mana mungkin aku dapat menerimanya darimu? Khalifah Usman tidak mau menerima zakatnya pula, dan akhirnya Tsa'labah mati di masa pemerintahan Khalifah Usman."

Firman Allah Swt:

فَاَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ بِمَآ اَخْلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

"karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya. (At-Taubah: 77).

Dari ayat tersebut, Mufasir Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah menimbulkan kemunafikan dalam hati mereka karena mereka telah mengingkari janjinya dan berdusta. Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis dari Rasulullah Saw yang menyebut­kan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"Pertanda orang munafik itu ada tiga; apabila berbicara dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat.
Hadis ini mempunyai banyak syahid (bukti) yang menguatkannya.
Firman Allah Swt.:
"Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka. (At-Taubah: 78).

Allah Swt memberitahukan bahwa Dia mengetahui semua rahasia dan semua yang tersembunyi. Dia pun mengetahui isi hati mereka, sekalipun pada lahiriahnya mereka mengatakan bahwa jika mereka beroleh harta yang banyak, maka mereka akan menyedekahkan sebagiannya dan mensyukurinya.

Karena sesungguhnya Allah lebih mengetahui tentang diri mereka daripada diri mereka sendiri. Allah Maha Mengetahui semua yang gaib, yakni mengetahui semua yang gaib dan semua yang lahir serta mengetahui semua rahasia dan semua bisikan hati, dan Allah mengetahui semua yang lahir dan semua yang tersembunyi.

Wallahu A'lam Bishowab.

(Sumber: Tafsir Ibnu Katsir)


Editor : Kastolani Marzuki