Kota Tegal Lockdown Lokal 4 Bulan, Begini Reaksi Warga

Yunibar · Kamis, 26 Maret 2020 - 20:00 WIB
Kota Tegal Lockdown Lokal 4 Bulan, Begini Reaksi Warga
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan ke kendaraan yang keluar dan masuk di pintu Gerbang Tol Kaligangsa Tegal. (Foto: Antara)

TEGAL, iNews.id - Kebijakan Pemkot Tegal yang akan melakukan lockdown local selama empat bulan mulai 30 Maret hingga 30 Juli 2020 menuai reaksi masyarakat. Mereka memprotes kebijakan tersebut yang dinilai terlalu berlebihan.

Keputusan berani Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono menutup semua akses kota itu setelah satu pasien dalam pengawasan (PDP) dinyatakan positif terinfeksi virus corona (Covid-19).

Pasien laki-laki berusia 34 tahun warga Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal itu saat ini masih dirawat intensif di RSUD Kardinah Tegal. Pasien itu baru pulang dari Dubai, Uni Emirate Arab, 16 Maret 2020 lalu.

“Berita yang sangat memprihatinkan , Bahwa Pasien, laki-laki, berusia 34 tahun, yang beralamat dari kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Pada Hari ini sudah dinyatakan positif Covid-19” kata Dedy Yon saat konferensi pers di pendapa Ki Gede Sebayu Balai Kota Tegal, Rabu (25/3/2020) malam.

Menanggapi keputusan tersebut, warga Kota Tegal langsung bereaksi. Mereka menilai lockdown harus disertai kebijakan lain yang tidak merugikan masyarakat terutama di sesektor ekonomi rakyat kecil.

“Jgn bicara lokdan lokdon kalo pemkot tidak mampu menanggung biaya tinggi akibat lockdown bagi warga yg terdampak. Ini serius bro,” tulis Yunibar di akun @yunibarsurya.

Netizen lainnya juga menilai lockdown hanya akan menambah beban masyarakat berpenghasilan rendah semakin kesulitan.

“Pak Jokowi menyerukan untuk masing masing kepala daerah harus mempertimbangkan dampak ekonomi bagi masyarakat kecil sampe dengan tukang ojeg. Keputusan lockdown kota dengan menutup akses jalan bukannya hanya akan mematikan ekonomi rakyat cilik, yang masih butuh bekerja harian untuk mencari makan, mohon hal.ini juga di pertimbangkan ...kasian wong cilik yg tetep butuh solusi untuk memenuhi nafkah,” tulis @asmungi.almanan.

Dia juga menantang pegawai pemkot dan DPRD untuk siap dipotong gajinya 50 persen agar sama-sama merasakan dampak ekonomi akibat kebijakan lockdown tersebut.

“Apakah pegawai Pemkot dan DPRD siap juga di potong 50% gajinya agar sama sama merasakan dampak ekonomi nya untuk dialihkan pemberian subsidi keapda rakyat kecil yg berdampak...karena mereka digaji oleh rakyat....kota lain TDK ada yg sampai menutup jalan pak. Mohon dapat dipertimbangkan jika penutupan diperpanjang sampai juli...kita semua beeharap agar virus ini segera usai namun tetap menjaga ekonomi rakyat cilik,” katanya.

Sebelumnya, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono mengatakan, kebijakan lockdown tersebut terpaksa diambil untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona di Kota Tegal.

“Kota Tegal akan full lockdown local. Seluruh perbatasan rencananya kita tutup tidak lagi dengan water barrier, tapi dengan MBC beton. Rencana kita tutup 30 maret sampai 30 Juli 2020. Ini demi keamanan kita bersama,” kata Dedy.

Menurut Dedy, jalur yang dibuka hanya jalan provinsi dan nasional. Sedangkan seluruh daerah di Kota Tegal akan diberi pembatas berupa MBC beton.

“Kita kasih pembatas pakai MBC beton, sehingga tidak ada masyarakat yang bisa memindah atau menggeser. Satu MBC beton itu kurang lebih 2 ton. Ini demi keselamatan kita semua,” ujarnya.

Dedy mengaku kebijakan yang ditempuhnya itu terpaksa dilakukan agar penyebaran virus corona tidak semakin meluas. Dedy juga berharap masyarakat bisa memahami kebijakan itu dan kompak bersama-sama melawan virus corona. “Ini adalah pilihan yang sangat pahit. Saya pribadi juga dilematis. Kalau boleh memilih, saya lebih baik dibenci masyarakat,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki