Meluruskan Niat agar Amalan Ibadah Tidak Sia-Sia

Kastolani · Senin, 10 Februari 2020 - 17:00 WIB
Meluruskan Niat agar Amalan Ibadah Tidak Sia-Sia
Niat merupakan salah satu syarat dalam beribadah. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Niat merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi Muslim dalam menjalankan ibadah maupun melakukan aktivitas yang positif. Tanpa niat semuanya akan menjadi percuma dan hasil yang dicapai biasanya tidak sesuai yang diinginkan.

Karena itu, para ulama fikih dan hadis menempatkan niat dalam bab pertama kitab mereka. Tak terkecuali dalam kitab Arba'in Nawawi yang ditulis Imam Nawawi.

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR Bukhori dan Muslim) .

KH Bisri Musthofa dalam kitab Al Azwadul Musthofawiyah Syarah Arba'in Nawawiyah menjelaskan, perbuatan seorang mukmin tidak akan diterima dan tidak akan mendapat pahala kecuali jika diiringi dengan niat.

Dalam ibadah inti seperti shalat, haji, puasa, niat merupakan rukun. Karenanya ibadah-ibadah tersebut tidak sah kecuali diiringi dengan niat.

Seperti orang makan dan minum. Kalau diniatkan untuk menjalankan ibadah akan mendapatkan pahala. Sebaliknya kalau perbuatan itu diniatkan untuk melakukan maksiat akan mendapat dosa.
 
Begitu juga orang berhijrah. Kalau diniatkan untuk mendapatkan Ridha Allah dan rasul-nya akan memperoleh pahala besar.

Tak terkecuali dalam menikah. Jika diniatkan untuk mencari ridho Allah dan rasul-Nya bukan karena sosok perempuan yang dicintainya, insya Allah akan mendapat pahala.

Ibnu Mas’ud Radhiallahu Anhu berkata: “Di antara kami ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita, bernama Ummu Qais. Namun wanita itu menolak sehingga ia berhijrah ke Madinah. Maka laki-laki itu ikut hijrah dan menikahinya. Karena itu kami memberinya julukan Muhajir Ummu Qais.”

Sa’id Ibnu Manshur meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya, dengan sanad sebagaimana syarat Bukhari dan Muslim, bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Siapa yang hijrah untuk mendapatkan kepentingan duniawi maka pahala yang didapat sebagaimana yang didapat oleh laki-laki yang hijrah untuk menikahi wanita yang bernama Ummu Qais, sehingga ia dijuluki Muhajir Ummu Qais.”

Wallahu A'lam Bishshawab.


Editor : Kastolani Marzuki