Salat Jumat di Jateng Ditiadakan, Ketua MUI: Niat Ingin Selamatkan Orang Banyak

Nani Suherni ยท Rabu, 25 Maret 2020 - 16:15 WIB
Salat Jumat di Jateng Ditiadakan, Ketua MUI: Niat Ingin Selamatkan Orang Banyak
Jamaah salat Jumat di Masjid Al Manar, Wonosidi Lor, Wates, Kulonprogo, DIY pada Jumat (20/3/2020). (Foto: iNews/Kuntadi)

SEMARANG, iNews.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan tausiah tentang peniadaan salat Jumat di seluruh wilayah Jateng pada 27 Maret 2020. Keputusan itu berdasarkan kasus penyebaran virus corona (Covid-19) di provinsi itu yang semakin meluas.

Ketua MUI Jateng Ahmad Darodji mengatakan pelaksanaan salat berjemaah (selain Jumatan) masih mungkin dilakukan. Hanya, dalam praktiknya harus memperhatikan jarak antarjemaah dan ketentuan lain, seperti membawa sajadah sendiri.

“Iya itu (salat jumat ditiadakan) benar. Namun pengurus masjid di seluruh Jateng tetap bisa menyiapkan untuk yang mau salat zuhur. Tapi, tidak Jumatan,” kata Darodji dikutip iNews.id dari laman jatengprov.go.id, Rabu (25/3/2020).

Menurut Darodji, putusan untuk meniadakan salat Jumat berdasarkan kasus penyebaran Covid-19 di Jateng, yang semakin menyebar. Selain itu, merujuk pada fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020, tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah virus Corona.

Setelah berkonsultasi dengan Gugus Tugas penanganan Covid-19, kata dia, diketahui perkembangan wilayah terpapar di Jateng semakin meluas. Hal itulah, yang kemudian menjadi dasar untuk peniadaan salat Jumat.

Selain dua pertimbangan tersebut, MUI Jateng juga melakukan evaluasi terhadap kegiatan salat Jumat yang minggu kemarin masih terselenggara. Meski berjalan baik, banyaknya jamaah menyebabkan pengaturan jarak antarorang sulit untuk diterapkan.

“Pengganti salat Jumat, umat tetap salat zuhur, bisa juga ditambah dengan salat-salat sunah. Satu yang penting, niat tidak datang salat Jumat karena ingin menyelamatkan orang banyak. Niat mengurangi penyebaran (Covid-19),” papar Darodji.

Dia menambahkan, imbauan itu berlaku untuk Jumat pekan ini. Selanjutnya, MUI akan melihat perkembangan dan kondisi wilayah.

Darodji meminta umat muslim di Jateng agar memperbanyak ikhtiar dan doa. Seperti, membaca doa qunut nazillah, sebagai upaya tolak bala supaya negeri ini terbebas dari wabah.

“Putusan untuk meniadakan salat Jumat, berlaku untuk tanggal 27 Maret 2020. Untuk Jumat selanjutnya kita melihat perkembangan, dan akan ada tausiah lagi,” kata Darodji.

Diketahui, MUI Jateng mengeluarkan tausyiah bertarikh Selasa 24 Maret 2020 atau 29 Rajab 1441 Hijriyah. Pada surat yang ditandatangani Ketua Umum MUI Jateng KH Ahmad Darodji, Sekretaris KH Muhyidin, dan Ketua Komisi Fatwa KH Ahmad Hadlor Ichsan, membuahkan empat butir tausiah.

Pengelola masjid dan umat Islam diiimbau untuk tidak menyelenggarakan Salat Jumat berjemaah, pada 27 Maret. Jemaah dapat mengganti ibadah itu dengan salat zuhur di kediaman masing-masing. Tidak menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak orang. Terakhir, pengurus masjid tidak menyelenggarakan jemaah salat rawatib atau jemaah salat lima waktu. 


Editor : Kastolani Marzuki