Sepi Pengunjung, 2 Objek Wisata di Gunungkidul Ini Mati Suri

Antara ยท Senin, 17 Februari 2020 - 08:21 WIB
Sepi Pengunjung, 2 Objek Wisata di Gunungkidul Ini Mati Suri
Wisata Puncak 4G, negeri di atas awan di Gedangsari, Gunungkidul, DIY yang kini sepi pengunjung. (Foto: Istimewa)

GUNUNGKIDUL, iNews.id – Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Gunungkidul Hari Sukmono menyebut ada dua objek wisata zona selatan yang mati suri. Keduanya yakni wisata Puncak 4G dan Green Vilage di Gedangsari.

Menurutnya, kondisi ini disebabkan fasilitas pendukung yang tidak memadai sehingga wisatawan enggan berkunjung. Selain infrastruktur, juga karena ada permasalahan internal di pengelola.

“Ini menjadi catatan bersama. Jika bisa, nanti dibenahi. Namun jika itu merupakan tanggung jawab kelompok ya kelompok," ujar Hari Sukmono di Gunungkidul, Minggu (16/2/2020).

Wisata Puncak 4G meski sudah ditarik retribusi ternyata belum memiliki kelompok sadar wisata (pokdarwis). Pemerintah desa (pemdes) sebenarnya telah menjembatani namun hingga sekarang belum terbentuk.

“Kemudian Green Vilage. Di tempat ini sarana flaying fox terkendala persoalan pemeliharaan. Kami sedang masuk untuk komunikasi dengan pengelola. Green Vilage sudah ditarik retribusi,” katanya.

Seorang wisatawan Amad Nurcahyo mengaku belum lama ini mengunjungi objek wisata Puncak 4G. Dia ketika itu bersama dengan teman-temannya naik ke puncak untuk menikmati keindahan alam dari ketinggian.

“Tapi saya kaget. Datang ke puncak 4G sudah tidak ada aktivitas wisata seperti pengelola, maupun pedagang. Objek wisatanya sepi,” katanya.

Amad yang telah lebih dari sekali datang ke puncak 4G merasakan jika suasana sekarang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dahulu ada penjual minuman sampai ke puncak sehingga memudahkan pengunjung untuk melengkapi kenyamanan berwisata. Padahal akses jalan menuju puncak 4G saat ini sudah lumayan bagus.

"Tetapi justru sepi pengunjung ya sekarang. Saya juga sedih, lokasi selfie di puncak 4G juga mulai rusak sehingga tidak enak dipandang,” kata Amad.


Editor : Donald Karouw