Kolom

Supervisi Kolaborasi Berbasis Kebutuhan Guru

Kastolani ยท Senin, 25 November 2019 - 02:38 WIB
Supervisi Kolaborasi Berbasis Kebutuhan Guru
Lukman Hakim

Lukman Hakim, S.Ag

Guru SMAN 1 Pagerbarang/Mahasiswa Magister Pedagogi UPS Tegal

 

Pengawas sekolah adalah guru yang yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan dengan tugas pokok meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantauan pelaksanaan delapan standar nasional pendidikan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, serta pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus.

Guna melaksanakan tugas pokok tersebut pengawas sekolah harus memiliki enam kompetensi yaitu kepribadian, supervisi managerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan serta kompetensi sosial.

Dalam melaksanakan tugasnya, pengawas sekolah perlu menyusun sebuah program kerja sebagai pedoman yang memuat landasan, tujuan, program implementasi, monitoring dan evaluasi.

Tiada gading yang tak retak, manusia tempatnya salah dan lupa. Dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang menyadari kesalahan lalu memperbaikinya. Namun demikian sering kali untuk menyadari kesalahan dan kekurangan kita membutuhkan orang lain.

Keberadaan orang lain yang berperan mengingatkan/membimbing adalah mutlak adanya. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat (lembaga) yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung". (QS:3:104).

Filsafat scholastisisme berpandangan bahwa tujuan pendidikan adalah membantu individu mencapai tingkat tertinggi sebagai manusia, yaitu manusia yang berkembang penuh akal pikirannya, dan yang tunduk patuh kepada hukum Tuhan.

Tujuan ini dapat dicapai melalui latihan berpikir dan latihan moral. Salah satu cabang filsafat yaitu ontologi menekankan bahwa dalam penyelenggaraan supervisi pendidikan diperlukan usaha dan kerja sama antara pengawas sekolah dan guru mengenai pandangan tentang tujuan dari supervisi pendidikan, serta apa dan bagaimana supervisi yang dikehendaki.

Pekerjaan pengawas bukanlah pekerjaan mencari kesalahan orang lain, namun memberikan motivasi dan bimbingan bagi guru dalam mengembangkan kemampuan profesionalnya.

“Supervisi pembelajaran ialah kegiatan kepengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi-kondisi baik personal maupun material yang memungkinkan terciptanya situasi belajar-mengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan” (Purwanto : 2010).

Jadi supervisi adalah segala usaha dari pengawas sekolah dalam membimbing guru dan petugas pendidikan lainnya untuk memperbaiki dan mengembangkan profesionalitas guru dan tenaga kependidikan serta meningkatkan mutu manajemen sekolah.

Untuk mengetahui kebutuhan guru dalam layanan profesional kepengawasan perlu dikembangkan dua kegiatan yaitu assessment dan supervisi kolaboratif. Penulis berasumsi bahwa dua hal tersebut layak dikaji serta dikembangkan untuk meningkatkan mutu kepengawasan sekolah.

Assessment merupakan kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu. Dalam mencari sesuatu tersebut juga termasuk mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, serta alternatif strategi yang diajukan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan. (Worthen dan Sanders : 1973).

Secara sederhana assessment merupakan kegiatan mengumpulkan data yang diperlukan untuk perencanaan kegiatan. Kegiatan kepengawasan sekolah tentu lebih baik apabila program kepengawasannya sesuai dengan kebutuhan guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya.

Untuk itulah diperlukan assessment terlebih dahulu sebelum menyusun program kepengawasan dengan tujuan pengawas mendapatkan data kebutuhan tersebut. Minimal ada dua hal yang didapatkan dari kegiatan assessment yaitu pertama mengenal dengan baik objek kepengawasan dan kedua mendapatkan data sebagai bahan untuk pemetaan kebutuhan kepengawasan.

Dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsi berupa pembinaan, pemantauan, penilaian, pembimbingan dan peningkatan profesionalitas kepala sekolah dan guru, fungsi supervisi akademik dan supervisi manajerial salah satu metode yang baik adalah menggunakan pendekatan kolaboratif.

Pendekatan kolaboratif merupakan model pelaksanaan supervisi yang menekankan kemitraan (partnershif) antara pengawas dengan individu atau kelompok yang disupervisi.

Pendekatan kolaboratif dalam pelaksanaan supervisi sangat relevan digunakan, karena tidak menimbulkan suasana tegang, bahkan bisa memunculkan suasana keakraban dan keterbukaan antara individu atau kelompok yang disupervisi.

Ini sejalan dengan pendapat Nurtain (1998) yang menyebutkan ada beberapa prinsip kolaboratif yang harus dipegang oleh pengawas dalam melaksanakan tugas supervisi antara lain, pertama, pengawasan hendaknya berpusat pada guru.

Kedua, hubungan guru dengan pengawas lebih interaktif dibandingkan direktif. Ketiga, mengembangkan sikap demokratif dari pada otoratif. Keempat, hendaknya umpan balik dari proses pembelajaran guru diberikan dengan segera dan kesimpulannya harus sesuai dengan 4 kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Kelima, layanan supervisi yang diberikan bersifat bantuan dengan tujuan meningkatkan kemampuan mengajar dan sikap profesional guru. Keenam, adanya satu pusat perhatian/satu objek yang ditonjolkan pada saat berlangsungnya supervisi.

Untuk mencapai suatu tujuan diperlukan strategi yang di dalamnya memuat prinsip, langkah dan panduan yang menjadi pedoman dalam melaksanakan tugas kepengawasan.

Prinsip-prinsip pengawasan antara lain menjamin sasaran, efisiensi, menatap masa depan, pengawasan secara langsung, standar ,titik strategis dan teliti ulang. Adapun langkah proses pengawasan dimulai dari menetapkan alat ukur/standar, menentukan metode pengukuran Penetapan standar saja tidak akan berfungsi apabila tidak disertai petunjuk bagaimana cara untuk mengukur pelaksanaan kegiatan.

Oleh karena itu, langkah kedua dalam proses pengawasan adalah menentukan metode atau cara pengukuran yang di dalamnya memuat juga waktu dan tempat pengukuran.

Ada beberapa cara untuk melakukan pengukuran pelaksanaan kegiatan antara lain pengamatan (observasi), laporan lisan dan tertulis, inspeksi, dan pengujian (tes dan non tes), dan pengambilan data baik populasi maupun sampel, membandingkan/menilai dan diakhiri kegiatan tindak lanjut.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pada program pengembangan kepengawasan sekolah ini, penulis menawarkan dua kegiatan yaitu assessment dan supervisi kolaboratif.

Penulis berasumsi bahwa dua hal tersebut layak dikaji serta dikembangkan untuk meningkatkan mutu kepengawasan sekolah. Pemanfaatan teknologi mutlak diperlukan karena bagi kebanyakan orang proses pengumpulan dan analisis data dipandang sebagai pekerjaan yang membosankan, menyita perhatian, waktu dan tenaga.

Ditambah lagi dengan repotnya meyimpan data, menjaga dari kerusakan maupun kehilangan. Salah satu solusi alternatif untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memanfaatkan layanan google form.

Google form merupakan layanan formulir secara online yang memungkinkan pengumpulan informasi/data survei, kuis, dan lain sebagainya secara gratis. Google form memudahkan proses input, analisis dan pengarsipan data.

Dengan google form pengawas sekolah mendapatkan beberapa kemudahan antara lain mendapatkan data yang real time, setiap ada perubahan akan tersimpan secara otomatis, tidak mudah rusak atau hilang, mudah dicari ketika diperlukan, dan mengurangi penggunaan kertas.

Jika angket pada google form sudah 5 siap, responden (kepala sekolah/guru) dapat mengisinya melalui link yang diberikan. Pengisian angket dapat dilakukan secara bersamaan menggunakan personal komputer, laptop, maupun handphone (HP).

Setelah angket diisi oleh responden kita dapat melihat data yang masuk, untuk selanjutnya kita olah dan analisis. Hasil analisis dapat kita lengkapi dengan tabel atau diagram guna memudahkan pembaca memahami informasi yang hendak kita sampaikan.

Informasi yang dimaksud dapat berupa rekomendasi atas dasar fakta yang telah didapatkan melalui assessment. Pada dasarnya pengawas sekolah sebagai seorang supervisor dapat melaksanakan supervisi dengan berbagai teknik dan pendekatan.

Pidarta (1988) menyebut ada enam prinsip yang harus dilaksanakan dalam supervisi akademik antara lain, pertama, hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkhis. Kedua, dilaksanakan secara demokratis. Ketiga, terpusat pada guru. Keempat, didasarkan pada kebutuhan guru. Kelima umpan balik berdasarkan data hasil observasi, keenam, bersifat bantuan professional.

Sesuai dengan paradigma baru manajemen sekolah yang menekankan pemberdayaan dan partisipasi, maka keberhasilan atau kegagalan sebuah sekolah dalam melaksanakan program bukan hanya menjadi otoritas pengawas sekolah.

Hasil monitoring yang dilakukan pengawas sekolah hendaknya disampaikan secara terbuka kepada stakeholder. Selanjutnya secara bersama-sama pihak sekolah dapat melakukan evaluasi dan refleksi diri atas data yang didapat.

Evaluasi dan refleksi diri sekolah dapat menggunakan sebuah forum diskusi, misalnya berbentuk Focused Group Discussion (FGD), yang melibatkan unsur-unsur stakeholder sekolah. Diskusi kelompok terfokus ini dapat dilakukan dalam beberapa putaran sesuai dengan kebutuhan.

Tujuan dari FGD adalah untuk menyatukan pandangan stakeholder mengenai realitas kondisi (kekuatan dan kelemahan) sekolah, serta menentukan langkah-langkah strategis maupun operasional yang akan diambil untuk memajukan sekolah.

Peran pengawas sekolah dalam hal ini adalah sebagai fasilitator sekaligus menjadi narasumber apabila diperlukan, untuk memberikan masukan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.


Editor : Kastolani Marzuki