Tak Mampu Bayar Uang Seragam, Pelajar SMP di Demak Diminta Keluar dari Sekolah

Sukmawijaya ยท Kamis, 29 Agustus 2019 - 04:30 WIB
Tak Mampu Bayar Uang Seragam, Pelajar SMP di Demak Diminta Keluar dari Sekolah
Rama Hakim Surya Alam membantu ayahnya mempersiapkan air dan peralatan untuk berjualan es buah di Mranggen, Kabupaten Demak, Jateng, Rabu (28/8/2019). (Foto: iNews/Sukmawijaya)

DEMAK, iNews.id – Seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, diminta keluar dari sekolah lantaran tidak mampu membayar uang seragam dan uang sumbangan hingga jutaan rupiah. Setelah putus sekolah, remaja bernama Rama Hakim Surya Alama (13) ini membantu ayahnya berjualan es buah.

Setiap hari, Rama ikut menyiapkan air bersih dan sejumlah wadah yang akan dibawa dari rumahnya di Desa Kebonbatur, Kecamatan Mranggen. Rama dan ayahnya biasanya berjualan es buah di Perumahan Sakinah Mranggen.

Menurut ayah Rama, Agung Setyo Hadi, sebelumnya Rama sudah mendaftar ke SMP Negeri 2 Mranggen. Bahkan, dia telah mencicil uang seragam sekolah sebesar Rp150.000 pada 29 Mei 2019 lalu.

Namun, Rama tetap dikeluarkan dari sekolah karena tidak mampu melunasi uang seragam sekolah Rama seharga Rp950.000. Agung juga tidak bisa membayar biaya sumbangan peningkatan institusi (SPI) sebesar Rp1.500.000.

“Waktu pembagian kelas, saya datang dengan anak saya. Harapan orang tua, anak masuk sekolah. Tapi ternyata, gurunya mengatakan anak saya tidak boleh masuk karena belum membayar uang seragam. Dikasih waktu, tapi saya tidak bisa melunasi dalam waktu sesingkat itu,“ kata Agung Setyo Hadi, Rabu (28/8/2019).

Agung pun mencoba mengumpulkan uang sehingga bisa mencicil biaya seragam sekolah Rama dan sumbangan SPI. Namun, sekolah menolak dan meminta dia melunasi seluruhnya.

“Tanggal 20 Agustus saya punya uang, ternyata tidak diperbolehkan lagi. Saya harus harus membayar sumbangan Rp1,5 juta lagi dan plus uang seragam Rp1 juta lagi sehingga total Rp2,5 juta. Kalau tidak bisa membayar, anak saya tidak bisa sekolah,” katanya.

Agung mengaku sangat terpukul dengan kebijakan sekolah yang menolak anaknya lantaran kedua masalah itu. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai penjual es buah, Agung hanya bisa mencicil biaya sekolah anaknya. Karena tidak ada solusi, Agung terpaksa membiarkan putranya putus sekolah dan ikut membantu berjualan es buah.

“Mohon ada kebijakan dari pemerintah untuk anak saya, kami ini dari keluarga miskin,” ujar Agung.

Sementara Rama juga mengaku terpaksa tidak sekolah karena ayahnya tidak punya uang untuk melunasi biaya seragam sekolah dan SPI. “Saya tiap hari ikut ayah saya jualan es buah,” ujar Rama Hakim Surya Alam.

Saat hal ini dikonfirmasi, Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Mranggen Ahmad Sholeh membantah pernyataan orang tua Rama. Keputusan memulangkan Rama bukan karena permintaan guru terkait, namun lantaran Rama tidak bersekolah satu bulan sejak hari pertama masuk. Guru pun meminta wali murid untuk menghadap kepala sekolah.

“Karena sudah sebulan tidak sekolah, guru meminta dia menghadap kepala sekolah. Hanya mungkin dia sendiri yang mengambil keputusan untuk tidak sekolah. Jadi tidak ada itu keputusan dikeluarkan dari sekolah,” kata Ahmad Sholeh.

Ahmad mengatakan, selama ini pihak sekolah memang mengenakan uang seragam siswa sampai Rp950.000 untuk pengadaan seragam Pramuka, seragam OSIS, kaos olah raga, dan batik. Sementara untuk jumlah SPI, sekolah tidak menetapkan jumlahnya.

Meskipun sifatnya tidak wajib, para siswa tetap dianjurkan membayar. Terkait jatuh tempo pembayaran, pihak sekolah juga belum memberikan keputusan kepada wali murid.


Editor : Maria Christina