Ustaz Tega Cabuli 11 Santriwati di Grobogan dengan Modus Pijat

Rustaman Nusantara ยท Selasa, 07 Januari 2020 - 11:45:00 WIB
Ustaz Tega Cabuli 11 Santriwati di Grobogan dengan Modus Pijat
Polisi mengamankan ustaz yang melakukan tindakan cabul kepada 11 santriwatinya di sebuah pondok pesantren di Grobogan, Jateng. (Foto: iNews/Rustaman Nusantara)

PURWODADI, iNews.id – Seorang ustaz yang bekerja sebagai staf pengajar di sebuah pondok pesantren di kawasan Karangrayung, Grobogan tega mencabuli 11 santriwati di bawah umur. Modusnya dengan melakukan pemijatan dan sengaja menyenggol bagian sensitif saat membangunkan santriwati.

Perbuatan itu diakui Sulaiman (50) saat diperiksa oleh Polres Grobogan. Kasus tersebut terungkap saat sejumlah orang tua korban melaporkan pelaku ke polisi karena tak terima anaknya diperlakukan demikian.

Kapolres Grobogan AKBP Ronny Tri Prasetyo menjelaskan bahwa pelaku menggunakan modus pemijatan untuk melakukan tindakan cabul kepada korban di pondok pesantren tersebut. Pelaku mengaku biasa memijat untuk menyembuhkan sakit yang diderita korban.

BACA JUGA: Bejat, Oknum Ustaz di Gowa Ditangkap Polisi Usai Cabuli Bocah 6 Tahun

“Beliau ini pengajar di pondok pesantren tersebut selama 22 tahun, dan mengaku bisa melakukan penyembuhan melalui pijat. Saat memijat santriwati itu dirinya mengaku khilaf dengan memeras bagian sensitif korban. Korban tak berani berteriak dan menolak karena takut dengan ustaznya itu,” ucap Ronny di Mapolres Grobogan, Selasa (7/1/2020).

Tak hanya itu, Ronny juga menjelaskan bahwa pelaku melakukan tindakan cabul saat membangunkan para santriwatinya. Yaitu dengan menyenggolkan tangannya ke bagian sensitif sambil membangunkan korban.

BACA JUGA: Cabuli Murid hingga Hamil, Pimpinan Ponpes di Tangerang Diamuk Massa

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti dalam kasus tersebut seperti baju dan pakaian dalam korban yang ditemukan adanya sperma pelaku. “Pelaku mengaku sudah melakukan tindakan itu kepada 11 korban,” kata Ronny.

Pelaku kini sudah ditahan di Mapolres Grobogan. Para korban mengaku masih trauma dan depresi atas kejadian ini sehingga mereka belum mau kembali ke pondok pesantren tersebut.

Editor : Rizal Bomantama

Bagikan Artikel: