Warga Kaliwungu Rayakan Maulid Nabi dengan Tradisi Weh-Wehan

Eddie Prayitno · Kamis, 30 November 2017 - 22:43 WIB
Warga Kaliwungu Rayakan Maulid Nabi dengan Tradisi Weh-Wehan
Warga Kaliwungu, Kendal, Jateng menyambut maulid Nabi Muhammad SAW dengan tradisi weh-wehan (bertukar makanan). (Foto: iNews.id/Eddie Prayitno)

KENDAL, iNews.id - Warga Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah memiliki tradisi unik menyambut maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka saling bertukar makanan yang disebut weh-wehan atau ketuwin.

Tradisi tersebut hanya digelar setahun sekali dan hanya warga Kaliwungu yang menggelar acara tersebut. Tradisi weh-wehan ini sebagai rasa syukur atas kelahiran Rasulullah.

Layaknya perayaan Lebaran, suasana kampung di Kaliwungu, Kamis (30/11/2017) semarak dan ramai. Warga silih berganti membawa makanan untuk ditukarkan dengan makanan lain di depan rumah mereka. Berbagai macam makanan disiapkan untuk ditukarkan dengan makanan lain dari warga yang mengunjungi.

Anak-anak di Kaliwungu Kendal bersuka cita karena mendapat banyak makanan dalam tradisi weh-wehan. (Foto: iNews.id/Eddie Prayitno)


Tokoh agama Kaliwungu, KH Solahudin Khumaidullah mengatakan tradisi weh-wehan atau ketuwin ini mengandung makna saling memberi dan berbagi. Tradisi yang sudah ada sejak lama di Kaliwungu ini juga mengajarkan warga untuk bersedekah melalui makanan yang dibagikan.

“Dalam prinsip Islam, saling memberi dan menerima adalah sesuatu yang baik. Weh-wehan substansinya adalah sedekah dan sedekah itu baik karena saling menolong,” katanya.

Tradisi tukar menukar makanan tersebut disambut suka cita masyarakat terutama anak-anak karena banyak jajanan dan makanan kesukaan mereka. Dalam tradisi itu, anak-anak berkeliling kampung sambil membawa jajanan untuk kemudian ditukar dengan jajanan lain milik tetangganya.

“Senang karena banyak jajan. Saya dapat es warna warni, makanan ringan dan uang yang dihias seperti bendera,” kata salah seorang anak, Rafa Haidar.

Makanan khas Kaliwungu, seperti sumpil tidak pernah absen dalam perayaan maulud tersebut, bahkan makanan dari bahan beras dan dibungkus daun bambu ini hanya ada dan dibuat khusus pada perayaan hari besar Islam.

Tidak hanya makanan khas yang disajikan, berbagai macam makanan dan minuman juga disuguhkan warga sebagai bentuk suka cita menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.


Editor : Kastolani Marzuki