Warga Srandakan Bantul Tolak Penambangan Pasir Progo dengan Alat Berat

Kuntadi ยท Selasa, 17 Maret 2020 - 23:30 WIB
Warga Srandakan Bantul Tolak Penambangan Pasir Progo dengan Alat Berat
Warga dua dukuh di Srandakan, Bantul menggeruduk kantor kecamatan menolak penambangan pasir di Sungai Progo dengan alat berat. (Foto: iNews/Kuntadi)

BANTUL, iNews.id – Ratusan warga dari dua dukuh di Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul menggeruduk kantor Camat Srandakan untuk memprotes keluarnya izin penambangan pasir di Sungai Progo.

Penolakan warga itu didasari ancaman kerusakan lingkungan karena penambangan pasir oleh perusahaan itu menggunakan alat berat.

“Kami tolak penambangan alat berat karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan,” kata warga Srandakan, Rukimin, Selasa (17/3/2020).

Menurut dia, warga yang datang dalam aksi penolakan ini berasal dari Dukuh Nengahan Kidul dan Srandakan. Mereka datang untuk mempertanyakan ijin penambangan yang dipegang oleh perusahaan. Padahal warga dari kedua dukuh tidak pernah memberikan surat ataupun tanda tangan dukungan.   

“Sejak 2017, kami sudah ada aksi penolakan. Bahkan tandatangan (penolakan) sudah disampaikan ke yang berwenang, tetapi mengaja ijin tetap turun,”  katanya.  

Dia menuturkan, Pemkab Bantul sempat menjanjikan untuk mempertemukan warga dengan calon penambang. Namun itu hanya sebatas wacana dan tidak pernah terealisasi. Belakangan justru surat izin penambangan turun.  

Warga lainnya, Kariyono mengatakan aksi penolakan ini dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Warga tidak ingin ada penambangan dengan alat berat yang bisa merusak lingkungan.

Warga juga takut bendungan Sungai Progo yang ada di selatan jembatan Srandakan juga akan terdampak.

Menurutnya, amblesnya Jembatan Progo pertama, merupakan dampak dari penambangan pasir menggunakan alat berat. Saat itu penambangan pasir cukup marak dan menjadikan jembatan ambles dan terancam ambruk. Hingga akhirnya dibuat jembatan Srandakan baru disisi selatan.

“Bendunganya sudah mulai rusak masak mau diperparah lagi. Kami menolak penambangan dengan alat berat,” ucapnya. 

Warga juga tidak ingin, dampak penambangan pasir memperparah kondisi sumur warga yang kering. Saat ini hampir radius 200 meter dari sungai, sumur-sumur warga sudah kering. Jika tidak harus diperdalam lagi agar mengeluarkan air.  

“Saat musim kemarau, sumur-sumu warga itu kering. Jangan diperparah lagi,” ucapnya.


Editor : Kastolani Marzuki