Liak Keling berpakaian kuntilanak menjajakan papeda dari kampung ke kampung. (iNews/Suryono Sukarno)
Suryono Sukarno

PEKALONGAN, iNews.id – Lia Afidah, warga Dukuh Kedolong Desa Jrembengkembang, Kecamatan Garangdadap, Kabupaten Pekalongan ini punya cara unik untuk menarik perhatian warga. Lia berpakaian ala kuntilanak berjualan makanan papeda keliling kampung.

Perempuan yang akrab disapa Liak Keling itu berkeliling dari kampung ke kampung menjajakan dagangannya pada siang dan malam. Meski penampilannya menyeramkan, namun sosok hantu ini justru  disukai anak- anak dan para ibu. 

Bahkan dijadikan ajang selfie juga update status media sosial (medsos).  Semenjak viral di medsos dan diliput berbagai media, pedagang berpakaian kuntilanak ini laris manis.

Sebelum berangkat berjualan, ibu dua anak ini berdandan sendiri merias wajahnya ala kuntilanak hingga penampilannya berubah drastis, menyeramkan. Dia mulai mengenakan kostum hantu menyeramkan ini saat pandemi Covid-19.

Dia harus putar otak agar barang dagangannya  bisa laku, sehingga timbul ide mengenakan pakaian kuntilanak. Awalnya mengenakan mukena untuk sholat, namun sekarang dia membuat kostum khusus.

Usahanya menarik perhatian agar warga tetap membeli jajanannya ternyata berhasil. “Setiap hari bisa menghabiskan 300 butir telur puyuh dengan keuntungan berkisar Rp300.000 sampai Rp400.000,” kata Lia Keling, Minggu (14/11/2021).

Dia mengatakan, menjual jajanan papeda atau pati puyuh dadar yaitu makanan terbuat dari tepung kanii lalu dituangakan ke wajan dan diberi telur puyuh lalu digulung dengan tusuk bambu .

“Ada banyakm aneka rasa seperti pedas, asin, manis, gurih, balado dan lainnya. Harganya  Rp1.500 per buah. Banyak yang membeli lebih dari satu, bahkan tak jarang diborong puluhan tusuk,” katanya.

Suami Lia, Nur Hayat juga berjualan bakso kecil keliling kampung. Saat berjualan siang atau malam hari, kedua anaknya yang masih sekolah SD tersebut, kadang ikut atau bermain sendiri.

Sementara, warga mengaku senang dengan kehadiran penjual jajanan ala kuntilanak ini di kampungnya. Menurutnya, suara cekikikan Lia yang khas justru ditunggu-tunggu saat keling kampung berjualan jajanan ini.

“Kita senang mendapat hiburan gratis. Tak ada anak-anak atau pembeli yang takut. Meski penampilannya menyeramkan, namun sosok hantu ini justru  disukai anak- anak dan para ibu bahkan diajak selfie,” ujar Anisah, pembeli papeda.


Editor : Ahmad Antoni

BERITA TERKAIT