KENDAL, iNews.id – Perajin tahu dan tempe di Kabupaten Kendal semakin terpuruk sebagai dampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang diterapkan pemerintah. Perajin mengeluh sepi permintaan karena rumah makan dan warung mengurangi pembelian.
Lesunya permintaan antara lain dirasakan Muzawir, pemilik pabrik tahu di Desa Blorok, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal. Melambatnya roda ekonomi dampak pandemi Covid-19 membuatnya harus menekan biaya produksi. Caranya dengan mengurangi ukuran produk tahu.
“Biasanya bisa memproduksi 6-7 kuintal sekitar 14 kilogram per tong. Namun selama PPKM hanya mampu memproduksi 4-5 kuintal dengan jumlah produksi sekitar 12 kilogram per tong,” kata Muzawir, Jumat (30/7/2021).
Berkurangnya pesanan dan langkanya kedelai sangat andil menurunkan jumlah produksi. Meski dalam kondisi terhimpit, dirinya tidak melakukan pengurangan karyawan.
Harga kedelai yang terus naik, membuat produsen tahu tidak berani memproduksi banyak karena khawatir akan merugi. Belum lagi PPKM level 4 saat ini, daya beli masyarakat ikut menurun.
“Kami ingin pemerintah membantu mengintervensi harga kedelai, sehingga harga bisa kembali normal,” katanya.
Editor : Ary Wahyu Wibowo
Artikel Terkait