BATANG, iNews.id - Home industri shuttlecock di Perum Widya Asri Blok B 24, Pasekaran, Kecamatan/Kabupaten Batang sukses menembus pasar mancanegara. Kualitasnya telah bersertifikat standar Badminton World Federation (BWF) dan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).
“Ini sangat luar biasa walaupun diproduksi secara tradisional, shuttlecock sudah dipasarkan 30 provinsi di Indonesia dan lima negara,” kata Bupati Batang, Wihaji, Kamis (24/2/2022).
Home Industri yang diberi nama IND Shutterlecock dibuat oleh tangan-tangan terampil warga Pasekaran. Dengan permintaan pasar yang sangat tinggi, home industri shuttlecock milik Ahda Al Faizu membutuhkan tenaga kerja untuk mengejar target produksi.
“Saya sudah perintahkan Disperindaskop membuat pelatihan khusus pembuatan shuttlecock. Usai pelatihan bisa langsung dipekerjakan,” ujarnya.
Wihaji menyebutkan home industri shuttlecock IND omzetnya sudah mencapai Rp500 juta per bulan.
“Ini luar biasa, perputaran uangnya bisa mencapai Rp400 juta hingga Rp500 juta. Ini tergantung produksi tenaga kerjanya, semakin banyak produksi omsetnya semakin banyak,” katanya.
Pemilik IND Shuttlecock, Ahda Al Faizu (35) menyatakan, kepiawaian membuat shuttlecock sebelumnya menjadi karyawan di salah satu home industri yang sama di Malang, Jawa Timur.
“Saya punya tekad dan cita-cita, akhirnya saya pulang ke Batang dan memproduksi kecil-kecilan. Alhamdulilah shuttlecock diterima di pasaran,” ujar Ahda.
Dirinya kini memilki sepuluh tenaga kerja. “Awal marketnya, saya mempromosikan shuttlecock di website dan karena sudah terkoneksi orang Amerika. Pertama permintaan dari Malaysia dan percaya dengan produk saya. Produk shuttlecock saya di Malaysia malah dibeli orang Jakarta,” ucapnya.
Setelah tahu produk dalam negeri, konsumen itu menghubungi dirinya. Setelah itu, ia mulai memproduksi dengan jumlah banyak sesuai permintaan.
Ahda Al Faizu juga menyebutkan setiap hari mampu memproduksi 1.200 shuttlecock. Sedangkan rata-rata perbulan mampu memproduksi 10.000 shuttlecock.
Kebutuhan bahan baku mayoritas dari luar negeri. Karena ketersediaan bahan baku lokal belum bisa mencukupi.
“Produk shuttlecock saya sudah bersertifikat BWF dan PBSI. Semuanya ada datanya dari mulai kecepatan, temperatur, dan suhu ruangan ada semuanya,” ujar dia.
Produk IND Shuttlecock memiliki berat yang mengadopsi WBF yaitu 5,0 gram hingga 5,2 gram. Tapi untuk Indonesia sesuai standar PBSI beratnya 4,9 gram.
“Shuttlecock pruduk saya kita jual satu slof dari mulai Rp35.000 hingga Rp80.000,” tuturnya.
Editor : Ary Wahyu Wibowo
Artikel Terkait