LBH Rupadi memperlihatkan bukti laporan terhadap proses Lelang Eksekusi Hak Tanggungan dan Fidusia (menjadi boedel pailit) ke aparat penegak hukum. (Ist)
Donny Marendra

SEMARANG, iNews.id - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Rupadi melaporkan proses Lelang Eksekusi Hak Tanggungan dan Fidusia (menjadi boedel pailit) ke aparat penegak hukum. LBH menilai proses lelang berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara.
 
Aduan ini disampaikan pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ditembuskan ke Presiden Republik Indonesia, Menteri Keuangan , Menteri BUMN Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kejaksaan Tinggi Jateng, Polda Jateng dan KPKNL Surakarta. 

"Kami bertujuan mencegah terjadinya tindak pidana korupsi karena angka yang ditawarkan bisa turun drastis, sehingga dikhawatirkan berpotensi dapat merugikan keuangan negara," kata Sekretaris DP LBH Rupadi Chyntya Alena Gaby, Kamis (28/4/2022).

Dia menjelaskan, pada lelang pertama yakni 14 April 2022 penawaran muncul di angka Rp120 miliar. Namun informasi terbaru pada 27 April 2022 angka Lelang Eksekusi Hak Tanggungan dan Fidusia ini justru turun drastis menjadi Rp 73.67 miliar. 

Gaby memaparkan, lelang dilakukan oleh salah satu bank milik pemerintah yang akan melakukan lelang dengan perantara Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Surakarta melalui jasa pra lelang, yakni PT BLI yang merupakan perusahaan swasta. Padahal, sebagai bank di bawah naungan BUMN seharusnya bisa langsung menggunakan KPKNL Surakarta, tanpa melalui lembaga swasta.

"Melihat hal tersebut kami mencurigai adanya dugaan kongkalikong oleh oknum tertentu dalam proses lelang ini," katanya.

Adapun objek lelang tersebut yakni 10 bidang tanah dengan luas 35.244 meter persegi dan bangunan pabrik serta mesin. Lokasinya berada di Desa Pulosari, Kecamatan Kramat, Kabupaten Karanganyar. 

Pihaknya berharap, pihak-pihak terkait dapat terjun langsung melakukan penelusuran dan atau monitoring dan supervisi, penyelidikan maupun pendampingan pada proses lelangnya. 

Sementara bagi calon pembeli harus hati-hati dan memahami lelangnya. Sebab dikhawatirkan bisa turut diperiksa nantinya apabila terjadi dugaan mengarah pada tindak pidana korupsi.

Begitu juga pada pihak PT BM (persero), KPKNL, PT BLI juga berpotensi untuk diperiksa KPK dan kementerian terkait apabila aduan ini berproses dan bergulir nantinya.

"Harapan kami proses Lelang Eksekusi Hak Tanggungan dan Fidusia tersebut dapat terhindar dari perbuatan tindak pidana korupsi," ujarnya.


Editor : Ahmad Antoni

BERITA TERKAIT