Sejumlah warga saat membeli minyak goreng di salah satu agen di Salatiga. Foto: Ist.
Angga Rosa

SALATIGA, iNews,id – Pemerintah telah mencabut subsidi minyak goreng curah. Para perajin tahu dan pelaku usaha kecil di Kota Salatiga meminta pemerintah menjaga stabilitasnya. 

Pencabutan subsidi minyak goreng curah dikhawatirkan menimbulkan fluktuasi harga. Untuk itu, pemerintah diminta menjaga stabilitas harganya. Jika harga minyak goreng curah tidak stabil dan cenderung naik, akan berpengaruh pada usaha kecil.

"Minyak goreng curah termasuk bahan baku utama dalam produksi tahu. Jika harganya tidak stabil, apalagi sampai melambung seperti beberapa bulan lalu, jelas berpengaruh pada usaha saya," kata salah seorang perajin tahu di Salatiga, Suhadi, Sabtu (4/6/2022).

Jika harga minyak goreng curah naik setelah program subsidi dicabut, para perajin akan menaikkan harga jual tahu. Itu langkah yang harus ditempuh perajin tahu agar tidak bangkrut. Pemerintah diminta melakukan langkah riil untuk menjaga stabilitas harga minyak goreng curah. 

"Jika harga bahan baku stabil, tentunya usaha juga bisa stabil. Apalagi saat ini perekonomian juga belum pulih 100 persen," ujarnya. 

Salah seorang pedagang tahu krispi di Randuacir, Argomulyo, Salatiga, Dwi (28) menuturkan, kenaikkan harga dan kelangkaan minyak goreng curah, seperti yang terjadi beberapa bulan lalu jangan sampai terjadi. Hal itu sangat menyulitkan pelaku usaha kecil. 

Maka dari itu, dia berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok minyak goreng curah.

"Kalau minyak goreng harganya tinggi dan susah didapat, bagaimana kami mau jualan. Saya berharap, harga minyak goreng bisa stabil Rp14.000 liter. Lebih dari itu, sudah berat untuk usaha," ujarnya.


Editor : Ary Wahyu Wibowo

BERITA TERKAIT