Presenter Alya Rohali saat mengikuti Sport Run Tourism di Kota Solo, Minggu (22/5/2022). Foto: Ist.
Ary Wahyu Wibowo

SOLO, iNews.id – Presenter Alya Rohali sangat menikmati suasana Kota Solo saat mengikuti Sport Run Tourism, Minggu (22/5/2022). Sejumah tempat yang menjadi ikon Kota Bengawan dikunjungi sambil berlari marathon menempuh jarak 5 kilometer. 

“Saya senang sekali bisa berangkat ke Solo, sudah lama sekali tidak ke Solo. Sudah kangen dengan kuliner dan tempat wisatanya,” kata Alya Rohali usai mengikuti Pocari Sweat Sport (Run) Tourism 2022 yang digelar bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). 

Dirinya senang karena bisa bertemu dengan para pelari dari Soloraya melewati car free day (CFD) di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Cuaca yang bersahabat dan sejuk sangat mendukung untuk kegiatan tersebut. 

“Saya sangat mendukung kegiatan sport run tourism karena bisa membangkitkan semangat pelari, dan ekonomi pascapandemi,”ucapnya. 

Saat berlari, dirinya juga sambil berwisata karena melewati tempat-tempat yang menjadi ikon Kota Solo, seperti Gedung Bank Indonesia, patung pahlawan Slamet Riyadi, Pasar Gede, dan Istana Pura Mangkunegaran. Selain tempat wisata, dirinya juga mencicipi kuliner tradional sajian dari Istana Pura Mangkunegaran, mulai dari apem, ketan, dan kolak. 

“Tadi apemnya dikombinasi sama ketan, dan dicampur pakai kolak, tradisional banget dan tadi ada agak gosong gosong, saya suka dan enak sekali,” ucapnya. 

Konsep sport tourism tujuannya adalah untuk mengangkat ikon wisata, dan Solo dikenal sebagai kota dengan ikon-ikon sejarah. 

“Harapannya dengan sport tourism, orang semakin peduli dengan kesehatan. Orang yang datang berbelanja, dan menginap, sehingga berdampak terhadap ekonomi Kota Solo,” kata Corporate Communications PT Amerta Indah Otsuka Sudarmadi Widodo. 

Pengageng Pariwisata Istana Pura Mangkunegaran, Joko Pramudyo mengatakan, kuliner apem, kolak dan ketan merupakan makanan tradisional yang ada di Pura Mangkunegaran. Kuliner yang disajikan itu memiliki makna satu rangkaian ajaran leluhur Pura Mangkunegaran kepada keturunan, dan abdi dalem. 

“Nasihat leluhur kebanyakan diwujudkan dalam suatu makanan, tradisi, atau kegiatan-kegiatan lain biar tidak mudah dilupakan,” kata Joko Pramudyo. 

“Seperti apem dari kata afum yang artinya maaf, ketan dari kata raket ing tetanggan (akrab dengan tetangga), dan kolak dari kata kholik atau sang pencipta. Kolak isinya pisang kepok yang dimaksudkan kapok atau taubat,” ucapnya. 

Kuliner ini biasanya disajikan saat momentum Lebaran karena saling memaafkan. Tidak hanya saling memaafkan dengan sesama manusia, tetapi juga memohon ampunan kepada Tuhan.  


Editor : Ary Wahyu Wibowo

BERITA TERKAIT