Ribuan petani di Desa Serang, lereng Gunung Slamet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menggelar tradisi perang tomat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. (Foto: iNews).

Suasana berlangsung meriah dengan sorak-sorai peserta dan penonton yang memenuhi area persawahan. Tidak hanya petani dewasa, anggota keluarga dari berbagai usia juga ikut ambil bagian dalam tradisi tersebut.

Salah seorang peserta, Husein mengaku senang dapat mengikuti perang tomat karena selain menghibur, kegiatan itu menjadi bentuk rasa syukur atas hasil panen yang baik.

"Yang ikut kan banyak, jadi kita tidak tahu mana teman dan lawan. Kita asal lempar serang saja," kata Husein di lokasi.

Kepala Desa Serang, Sugito mengatakan, tradisi perang tomat rutin digelar untuk menjaga kebersamaan dan mempererat hubungan antarpetani di wilayah tersebut.

Tradisi perang tomat berlangsung selama dua jam tanpa mengenal pemenang maupun pihak yang kalah. Seluruh peserta mengikuti kegiatan tersebut sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan atas panen melimpah sekaligus memperkuat tali silaturahmi.

"Perang itu tidak menimbulkan emosi, ada senda gurau tapi serius. Setelah perang itu peserta saling bermaafan," ujar Sugito.

Pada 2026, tradisi perang tomat kembali digelar bersamaan dengan penyelenggaraan Festival Gunung Slamet ke-9 yang menjadi agenda budaya tahunan di kawasan lereng Gunung Slamet.


Editor : Kurnia Illahi

Sebelumnya
Halaman :
1 2

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network