Asa Warga Brebes Membangun Wisata Hutan Bakau di Tengah Keterbatasan
BREBES, iNews.id – Pagi itu, tatkala matahari mulai membelai Pantai Utara Pulau Jawa, terdengar riuh suara perkakas yang menyelinap di celah hutan bakau Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Suara palu, gergaji dan sedikit canda tawa bersautan dengan suara burung dan deburan ombak Sungai Surnya.
Di balik rimbunnya bakau, tampak sekelompok pemuda yang gigih membuat jalan dari material bekas bangunan untuk membelah rimbunnya hutan bakau seluas 65 hektare. Berawal dari semangat para warga menginginkan desanya maju dan melihat potensi sumber daya alam yang dimiliki. Para pemuda yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (pokdarwis), akhirnya memutuskan untuk mulai membangun wisata dari segala keterbatasan yang ada.
Tak kurang dari 23 organisasi kepemudaan desa tersebut, bahu membahu tanpa pamrih membangun wisata yang telah lama didamba dengan nama Mangrove Grinting. Lembar demi lembar uang mereka kumpulkan dari keikhlasan warga desa yang kemudian dibelanjakan untuk membeli material seadanya.
“Pokdarwis dinahkodai oleh Ali Sodikin. Kami membangun wisata hutan bakau dari ketulusan warga, berapapun dan apapun yang mereka berikan kami terima. Alhamdulillah ada yang memberi uang, memberi lampu LED, tenaga semua itu dilakukan karena kami ingin membuktikan desa kami akan bangkit salah satunya dengan wisata bakau.” ujar salah satu koordinator pokdarwis, Suwarno, Sabtu (21/4/2018).
Menurutnya, dari hasil sumbangan warga yang terkumpul selain membangun jalan, mereka juga membangun sejumlah lokasi swafoto. Sehingga masyarakat yang datang, kata dia, dapat mengabadikan momen saat berkunjung ke hutan bakau tersebut.
“Sejauh ini jalan yang menembus hutan bakau sudah terbangun sepanjang 200 meter. Selain itu, dibangun juga jembatan bambu cinta, dermaga perahu, tulisan motivasi di papan kayu, hingga gapura dan pos jaga,” katanya.
Dia mengungkapkan jika semua fasilitas yang ada di Mangrove Grinting dikerjakan secara gotong royong dan suka rela. Menurut Suwarno, seiring dengan menggeliatnya pembangunan wisata itu, para pelajar yang tergabung dalam pramuka juga menanam ribuan bakau di sekitar area konservasi yang berjarak satu kilometer dari pos jaga.
“Alhamdulillah setiap akhir pekan masyarakat selalu ramai mengunjungi wisata baru ini. Walaupun sejatinya tempat tersebut belum dibuka dan ditetapkan secara resmi, oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Brebes sebagai destinasi wisata karena banyak sekali kekurangan yang ada,” ujarnya.
Dia menjelaskan, umumnya para wisatawan yang datang berjalan kaki dilintasan yang sudah terbangun. Selain itu, para pengunjung juga akan menyusuri sungai untuk membelah hutan bakau menggunakan perahu nelayan dan berakhir di pantai lumpur ujung utara desa.
“Warga berduyun-duyun untuk sekedar numpang foto dan jalan-jalan di area pertambakan atau mancing di saluran anak sungai. Cukup merogoh kocek Rp10.000 per orang, pengunjung bisa naik perahu nelayan dan bisa merasakan udara segar ala hutan bakau,” tuturnya.
Suwarno mengatakan, pembangunan wisata tersebut sudah berjalan tiga bulan. Sampai saat ini, katanya, belum tersentuh bantuan pengembangan pihak pemerintah baik dari desa ataupun dari kabupaten. Padahal, menurutnya, sebentar lagi akan memasuki bulan puasa dan masyarakat pasti akan ramai mengunjungi wisata baru tersebut.
“Katanya dari pemdes akan mengalokasikan dana tapi masih mengunggu proses pencairan dana desa. Jika ingin mengetahui perkembangan pembangunan wisata, monggo silahkan berkunjung. Sementara kami masih minim fasilitas tapi jangan berkecil hati, Allah mboten sare pasti ada hasil disetiap perjuangan,” katanya.
Editor: Muhammad Saiful Hadi