Bak Kota Mati, Mahasiswa Asal Yogyakarta Bagikan Video Kondisi Kota Hangzhou China

Suryono Sukarno ยท Selasa, 04 Februari 2020 - 12:56 WIB
Bak Kota Mati, Mahasiswa Asal Yogyakarta Bagikan Video Kondisi Kota Hangzhou China
Kondisi jalanan di Kota Hangzhou China (Foto: Screenshot video Muhammad Bahrun Najah)

YOGYAKARTA, iNews.id - Beredar video suasana kampus Zhejiang University of Technology di Hangzhou, China setelah ditinggal sebagian warganya. Terlihat petugas berjaga di area kampus dan sekeliling Hangzhou begitu ketat hingga di area transportasi publik.

Video yang dibagikan Muhammad Bahrun Najah, mahasiswa asal Yogyakarta ini memperlihatkan kondisi Hangzhou begitu sepi bak kota mati. Bahkan, beberapa toko yang menjual kebutuhan sehari-hari juga tutup.

Kondisi transportasi publik di Kota Hangzhou China (Foto: Screenshot video Muhammad Bahrun Najah)
Kondisi transportasi publik di Kota Hangzhou China (Foto: Screenshot video Muhammad Bahrun Najah)

 

Dia mengaku harus melewati proses pemeriksaan suhu tubuh setiap kali ingin menggunakan transportasi.

"Seluruh tempat publik di sini seperti, transportasi publik dan kantor kami harus dicek dulu suhunya," ujarnya sambil menunjuk petugas di stasiun bawah tanah.

Dia juga menginformasikan kondisi mahasiswa Indonesia di sana. Untuk sementara, semua kebutuhan disediakan international office.

"Untuk saat ini mahasiswa yang bertahan di Hangzhou diberi bantuan dari international office," ujarnya.

Semua warga yang bertahan di Hangzhou harus menghubungi international office jika ingin membeli kebutuhan pokok atau membuka toko di lokasi tersebut. Mereka diimbau tidak banyak beraktivitas di luar rumah terlalu lama untuk mengantisipasi penyeberan virus korona.

"Jadi siapa yang ingin membeli bahan makanan, nanti hubungi international office nanti akan dibelikan," ucapnya.

Dalam video yang diterima iNews, kondisi jalanan di Hangzhou begitu sepi. Mahasiswa semester 8 jurusan teknik sipil ini terus mengupdate informasi soal kondisi tempatnya tinggal di China agar bisa dilihat oleh keluarga serta pemerintah Indonesia.


Editor : Nani Suherni