Cerita Korban Penyerangan di Gunung Lawu Ambil Batu Selamatkan Wakapolres Karanganyar

Okezone, Bramantyo ยท Selasa, 23 Juni 2020 - 11:27:00 WIB
Cerita Korban Penyerangan di Gunung Lawu Ambil Batu Selamatkan Wakapolres Karanganyar
Jarot Broto Sarwono, salah warga yang ikut menjadi korban penyerangan bersama Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni di Gunung Lawu (Foto: Okezone/Bramantyo)

SOLO, iNews.id - Jarot Broto Sarwono mendadak menjadi pembicaraan publik karena menjadi salah satu korban aksi brutal Karyono Widodo alias Sujak. Dia ikut diserang pelaku saat berupaya menyelamatkan Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni di Gunung Lawu.

Saat ditemui di kediamannya, Jalan Lampo Batang Timur No 01/06, RT 05/03, Mojosongo, Jebres, Solo, Jarot tengah asyik berbincang dengan teman-temannya. Menurut Jarot, dirinya tak mengira sama sekali kejadian penyerangan tersebut terjadi. Saat itu, dirinya sengaja datang ke Gunung Lawu untuk melihat apakah jalur pendakian sudah dibuka untuk umum apa belum.

"Saya bukan relawan. Saya itu pendaki. Dan saya bukan termasuk rombongan (susur Gunung Polres Karanganyar). Saya habis mendaki di bukit mongkrang," kata Jarot, Selasa (23/6/2020).

Setelah memarkirkan sepeda motor di area parkir, Jarot berjalan terlebih dahulu menuju pintu masuk jalur pendakian Gunung Lawu. Di pintu masuk jalur pendakian Gunung Lawu, Jarot masih membaca informasi bila jalur pendakian ke puncak Gunung Lawu, masih belum dibuka untuk umum alias masih ditutup.

"Empat teman saya masih di area parkir Cemoro Kandang. Saya berjalan dulu ke pintu masuk Cemoro Kandang. Di pintu masuk Cemoro Kandang, saya baca kalau jalur pendakian masih ditutup untuk umum," katanya.

Saat asyik melihat pengumuman jalur pendakian Gunung Lawu masih ditutup, Jarot mendengar adanya teriakan dari pos pendaftaran pendakian Gunung Lawu. Saat melihat ke atas, Jarot melihat ada anggota polisi berseragam, berlarian. Di belakangnya, terlihat seorang laki-laki menggunakan kopiah dan tutup muka atau slayer mengayun-ayunkan senjata tajam ke arah polisi tersebut.

"Saya tak tahu yang dikejar pria bersenjata tajam itu pak Wakapolres. Saya dengar pak Wakapolres teriak 'awas ada yang bawa senjata tajam'. Terus saya nengok ke atas. Dan melihat ada yang mengejar pak polisi pakai senjata tajam," kata Jarot.

Spontan, begitu mendengar teriakan ada yang membawa senjata tajam, Jarot pun langsung mengambil batu. Batu tersebut sengaja diambil, karena dirinya takut pria yang membawa senjata tajam itu berlari ke arahnya.

"Saya langsung ambil batu berukuran lumayan besar. Soalnya, kalau orang yang bawa senjata tajam itu kan arahnya tidak tahu ke mana. Bisa juga ke arah saya," ucapnya.

Apa yang ditakutinya benar terjadi. Meski kaki pelaku yang menyerang Wakapolres sudah ditembak, pelaku penyerangan itu masih bisa berlari ke arahnya.

"Padahal, kakinya (pelaku) sudah ditembak. Tapi orangnya masih bisa lari. Tahu-tahu, orang itu berbelok ke arah saya. Langsung saja saya lempar pakai batu, kena batoknya (kepala) dan jatuh tersungkur," katanya.

Setelah pelaku tersungkur, Jarot merasakan pundaknya panas yang luar biasa. Jarot tak menduga, sebelum pelaku tersungkur setelah dilempar batu yang dibawanya, dirinya terkena sabetan senjata tajam pelaku.

Saat tahu dirinya terkena sabetan sajam pelaku, Jarot pun menghampiri Wakapolres Kompol Busroni. Pada Busroni, dirinya mengaraa kalau terkena sabetan senjata.

"Pak polisi yang diserang pelaku itu langsung meminta saya untuk naik ke dalam mobilnya untuk dibawa ke Puskesmas Tawangmangu. Di dalam mobil, saya lihat ada pak polisi lain yang juga terluka," ujarnya.

Menurut Jarot, pundaknya yang terkena sabetan senjata tajam pelaku mendapatkan jahitan. Dirinya merasa bersyukur, polisi yang diserang pelaku dalam keadaan selamat.

"Kalaupun batu yang saya lempar berhasil mengenai batoknya (kepala) dan tersangka jatuh tersungkur, itu hanya kebetulan. Karena sebelumnya, kaki pelaku sudah ditembak, tapi masih bisa lari," katanya.

Editor : Nani Suherni

Bagikan Artikel: