Derita Nakhoda Kapal Cantrang yang Kini Menganggur

Taufik Budi ยท Rabu, 17 Januari 2018 - 07:45:00 WIB
Derita Nakhoda Kapal Cantrang yang Kini Menganggur
Puluhan kapal cantrang yang saat ini hanya bisa bersandar karena di larang melaut. (Foto: iNews/Taufik Budi)

PATI, iNews.id – Nelayan di pesisir pantai utara Jawa kini banyak menganggur akibat pelarangan kapal cantang melaut. Selain keilangan pekerjaan dan menganggur di rumah, kapal beserta alat tangkap ikan banyak yang rusak karena terlalu lama tidak terpakai.

Nahkoda kapal cantrang, Sukimin, Warga Desa Bendar, Kecamatan Juwanan, Pati, Jawa Tengah (Jateng) sejak setahun terakhir menghabiskan hari-harinya di rumah. Dia tak lagi melaut lantaran kapal cantrang yang biasa dinakhodainya, dilarang beroperasi Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Selain di kebun, bapak dua anak itu kini lebih banyak mengisi waktunya bersama keluarga di rumah. Seusai menjemput anak sekolah, sesekali dia melihat kondisi Kapal Motor Soyo Karya, yang selama ini dia gunakan untuk mencari menafkahi keluarganya.

Namun, kondisi kapal berukuran 30 gross ton itu kini telah rusak di beberapa bagian. Badan kapal telah keropos berlubang, dan mesin sulit dihidupkan. Derita ini bukan hanya dialami Sukimin, namun ada sekitar 35 rekan seprofesinya yang mengalami hal yang sama. Mereka beralih profesi yang bukan keahliannya demi untuk menyambung hidup.

Dia teringat, setiap berlayar ke perairan Papua selama dua puluh hari, dia bisa membawa pulang ikan sekitar 30 ton. Namun, setelah pelarangan cantrang digulirkan pemerintah sejak 2015, nelayan-nelayan itu tak lagi memiliki penghasilan tetap.

“Saya tidak tahu kenapa cangkrang di larang. Kata Menteri Susi itu merusak. Tapi kan dia (Bu Susi) yang belum tahu saja,” kata Sukimin, Selasa 16 Januari 2018.

Dia mengklaim cantrang tak merusak lingkungan. Sebab, ketika alat tangkap ikan itu digunakan juga rusak, hancur  ketika tersangkut di rumpun, atau gundukan tanah di dasar laut.

Sukimin berharap, pemerintah mengkaji ulang kebijakan pelarangan cantrang karena merugikan banyak nelayan. Jka pemerintah berkukuh melarang cantrang, mestinya nelayan mendapat bantuan alat tangkap ikan yang dinilai lebih ramah terhadap lingkungan.

“Mudah-mudahan bisa berlayar lagi, kasihan sama anak-anak,” tuturnya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan secara bertahap melarang penggunaan cantrang atau alat pukat hela sejak 2015, dan pelarangan total mulai 1 januari 2018. Pelarangan cantrang diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015.

Editor : Donald Karouw