Dukung Bupati Kudus di Pilkada 2018, 2 Pengusaha Tagih Uang Sumbangan Miliaran Rupiah

Antara ยท Senin, 10 Februari 2020 - 19:30 WIB
Dukung Bupati Kudus di Pilkada 2018, 2 Pengusaha Tagih Uang Sumbangan Miliaran Rupiah
Pengusaha asal Kudus, Hariyanto, bersaksi dalam sidang kasus suap Bupati Kudus di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (10/2/2020). (Foto: Antara/ I.C.Senjaya)

SEMARANG, iNews.id - Dua pengusaha pendukung Bupati Kudus M.Tamzil dan Wakil Bupati Hartopo dalam Pilkada Kabupaten Kudus 2018 menagih uang yang mereka keluarkan setelah keduanya menang dan dilantik. Permintaan itu diucapkan keduanya dalam sidang kasus dugaan suap Bupati nonaktif Kudus M.Tamzil di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (10/2/2020).

Pengusaha bus asal Kudus, Hariyanto dalam kesaksiannya mengaku iklas uang yang telah dikeluarkannya tidak dikembalikan jika pasangan Tamzil-Hartopo kalah dalam pilkada.

"Tapi kalau menang tolong dikembalikan," kata pemilik P.O.Hariyanto tersebut.

Hariyanto mengaku mengeluarkan uang lebih dari Rp8,7 miliar untuk pasangan Tamzil-Hartopo.

Jumlah itu, lanjut dia, belum termasuk untuk membayar sejumlah kebutuhan yang belum dibayar lunas saat proses pilkada.

Dia mengungkapkan ada tagihan Rp1 miliar untuk pembelian sarung yang dibagikan ke masyarakat. Atas tagihan itu, Hariyanto membayar Rp250 juta yang berasal dari uang pribadinya. Sementara sisanya dimintakan kepada Tamzil setelah menjabat sebagai bupati.

Dia juga menyebut tentang adanya tagihan pembuatan kaus dan spanduk sebesar Rp500 juta.

Sementara pengusaha jasa konstruksi asal Demak Noer Halim mengatakan tidak mempermasalahkan uang yang disumbangkan ke pasangan Tamzil-Hartopo. Tetapi dia meminta agara keduanya memperhatikan nasib MTs di Kabupaten Kudus.

Halim mengaku menyumbang Rp10 miliar untuk pasangan Tamzil-Hartopo. Tetapi, setelah Tamzil-Hartopo terpilih, dirinya pernah meminta agar uang yang dikeluarkannya dikembalikan.

"Saya sampaikan, kalau sudah longgar tolong uangnya dikembalikan 'alon-alon' (pelan-pelan)," katanya dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Sulistyono itu.

Halim mengaku sempat ditawari oleh Tamzil agar ikut mengerjakan proyek di Kudus.

"Sempat dijanjikan, katanya nanti biar dibantu 'teman-teman'. Tetapi tetap tidak bisa," katanya.

Menurut dia, proses pengerjaan proyek tetap harus melalui prosedur lelang. Bahkan, dirinya juga pernah ditawari untuk mengerjakan sekitar enam sampai tujuh proyek senilai Rp40 miliar oleh mantan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Kudus Heru Subiyantoko.

Namun karena harus melalui proses lelang kembali, hal tersebut sulit teralisasi.


Editor : Nani Suherni