Tausiyah

Hikmah Idul Adha di Tengah Pandemi Covid-19

Kastolani · Sabtu, 01 Agustus 2020 - 05:30 WIB
Hikmah Idul Adha di Tengah Pandemi Covid-19
Berkurban merupakan bentuk implementasi ketakwaan kepada Allah SWT. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id- Idul Adha, tahun ini dirayakan dalam situasi ’(H2C) Harap-Harap Cemas’/khaufan wa thama’an akibat masih mewabahnya virus corona. Semua tentu berharap agar pandemi Covid-19 yang melanda dunia ini segera berakhir.

Di tengah situasi yang memprihatinkan ini, Idul Adha  menjadi semangat dan motivasi bagi muslim untuk rela berkurban dan berbagi kepada sesama. Sehingga terjalin keharmonisan.

Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU,
Moch Bukhori Muslim mengatakan, kata qurban (kurban) dalam bahasa arab berasal dari akar kata Qaraba, Yaqrabu, Qurbaanan yang artinya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ini berarti orang yang berkurban berusaha untuk Taqqarub kepada Allah SWT dan juga Taqarrub kepada manusia, karena ibadah kurban mengandung makna hablun minallah dan hablun minnaas.

Hablun minallah berarti apa pun yang dikorbankan harus didasari dengan ikhlas hanya berharap ridha dari Allah swt.

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.

Sedangkan hablun minannas berarti kita harus peduli dan berbuat baik  dengan sesama makhluk Allah SWT.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ…

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri

Ibadah kurban mengajarkan agar manusia senantiasa memperhatikan nasib orang kecil. Orang kaya harus mengasihi orang yang lebih lemah.

Hewan kurban yang disembelih kemudian dibagikan kepada kaum dhuafa’, mengajarkan agar orang-orang yang diberi keluasan rezeki oleh Allah tidak lupa diri.

Hendaknya senantiasa membagi kegembiraannya dengan orang-orang lemah disekitarnya.

"Sebagian kita yang memiliki kelebihan harta harus memikirkan saudar, karib kearabat dan tetangga. Jangan sampai kita kenyang namun ada tetangga kita sedang kesusahan untuk makan," katanya dalam materi khutbah Idul Adha dikutip dari dakwahnu.id, Jumat (31/7/2020).

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang. Sedang tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahuinya.

Dikisahkan bahwa Mush’ab ibnu Sa’d ibnu Abi Waqqash menceritakan bahwa ayahnya, Sa’d radhiallahu anhu merasa punya kelebihan/keutamaan dibandingkan dengan para sahabat yang lain. Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu mengingatkan,

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidakkah kalian ditolong terhadap musuh-musuh kalian, dan tidakkah kalian diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah kalian?” (HR. al-Bukhari)

Dia mengatakan, kesuksesan jabatan, keberhasilan bisnis, dan kemapanan pangkat yang kita peroleh tidak lain ada jasa dari orang-orang lemah. "Maka jangan lah pangkat, jabatan, kekayaan menjadikan kita angkuh, arogan dan sombong lalu lalai dengan kaum lemah," ucapnya.

Terutama kondisi wabah covid 19 saat ini, banyak orang lemah semakin susah dan banyak orang miskin bertambah, maka harus lebih peduli. Jangan takut atau ragu, apa yang diorbankan untuk menolong orang lemah tidak akan melemahkan keadaan.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Bilal radhiallahu anhu,

أَنْفِقْ يَا بِلَالُ، وَلاَ تَخْشَ مِنْ ذِيْ العَرْشِ إِقْلاَلاً

“Berinfaklah wahai Bilal! Jangan engkau khawatir menjadi fakir dan tidak memiliki apa-apa dari Dzat Pemilik Arsy.”  

Ujian Keimanan

Ibadah Kurban merupakan ujian keimanan Nabi Ibrahim AS. Apakah mau mengikuti perinta Allah SWT atau justru menentang?
Ketika Allah SWT. memerintahkan kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran (As-Shaaffat : 102 ) :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkan apa pendapatmu!” Ia (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar”.


Editor : Kastolani Marzuki