Karantina Sulit Diterapkan bagi Pemudik saat Idul Adha, Ganjar Punya Jalan Lain

Ahmad Antoni ยท Senin, 27 Juli 2020 - 14:04 WIB
Karantina Sulit Diterapkan bagi Pemudik saat Idul Adha, Ganjar Punya Jalan Lain
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memimpin rapat dengan direktur rumah sakit terkait evaluasi penanganan pasien Covid-19, Selasa (7/7/2020). (Foto: Istimewa)

SEMARANG, iNews.id - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memerintahkan seluruh kepala desa di wilayahnya mengantisipasi adanya pemudik di Idul Adha. Ganjar menyadari pelaksanaan karantina tidak mungkin dilakukan bagi pemudik di libur Idul Adha.

"Iya tadi diingatkan soal antisipasi pemudik pada long weekend besok. Karena juga bertepatan dengan Idul Adha. Maka saya minta seluruh kades mengoptimalkan fungsi Jogo Tonggonya dengan mencatat semua yang datang agar mereka menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Kalau tidak, bisa bahaya," kata Ganjar usai memimpin rapat percepatan penanganan Covid-19 di Gedung A 2 kantor Pemprov Jateng, Senin (27/7/2020).

Dia mengatakan akan menggelar rapat khusus terkait hal ini pada Selasa (28/7/2020) besok. Rapat akan khusus membahas hal itu dan langkah apa yang akan dilakukan untuk mengontrol pemudik saat Idul Adha.

"Kalau karantina kayaknya nggak mungkin, karena itu 14 hari. Saya meminta semua menjaga diri saja dengan protokol kesehatan yang ketat. Dan sebaiknya, kalau tidak penting tidak usah mudik," ucapnya.

Pihaknya juga menghimbau kepada masyarakat yang akan melaksanakan salat Idul Adha serta penyembelihan hewan kurban. Semua daerah harus menaati protokol kesehatan apabila hendak melaksanakan ibadah itu.

"Termasuk nanti bagaimana cara salat Idul Adha, pemotongan hewan kurban untuk menghindari kerumunan-kerumunan. Harapan saya, tolong semua dikelola dengan baik, dibatasi jumlahnya, jaraknya dijaga dan disiapkan tempat cuci tangan. Semua wajib pakai masker," ucapnya.

Pemprov Jateng juga telah mengusulkan agar pemotongan hewan kurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Hal itu penting untuk menghindari kerumunan di masjid-masjid atau tempat pemotongan lainnya.


Editor : Nani Suherni