Keris Pusaka Naga Siluman Milik Pangeran Diponegoro Ditemukan di Belanda

Suharjono, Sindonews ยท Kamis, 05 Maret 2020 - 21:30:00 WIB
Keris Pusaka Naga Siluman Milik Pangeran Diponegoro Ditemukan di Belanda
Menteri Pendidikan Belanda Ingrid van Engelshoven (paling kiri) bersama Dubes Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja (memegang keris Pangeran Diponegoro) dan Direktur Jenderal Museum Dunia Stijn Schoonderwoerd.(Foto:OCW/Freek van den)

YOGYAKARTA, iNews.id – Setelah ratusan tahun hilang keris pusaka milik Pangeran Diponegoro akhirnya ditemukan di Belanda. Peneliti memastikan bahwa pusaka itu merupakan Keris Kyai Naga Siluman yang sangat terkenal saat perang Jawa.

Pencarian keris milik Pangeran Diponegoro itu sudah dilakukan Museum Volkenkunde di Leiden, Belanda, sejak 1984. Orang pertama yang melakukan penelitian adalah Pieter Pott, kurator museum dan kemudian menjabat sebagai direktur museum.

Penelitian tersebut kemudian diikuti oleh Prof Susan Legene dari Frije Universiteit Amsterdam, Johanna Leifeldt (1917) dan Tom Quist (2019).

"Dari penelitian empat peneliti itu ditemukan ada tiga keris yang diduga milik Pangeran Diponegoro," kata anggota Tim Verifikasi Keris Pangeran Diponegoro, Sri Margana, Kamis (5/3/2020). 


Dia menjelaskan, pada 2019 peneliti lain, Tom Quist sepakat dengan pendapat Johanna Leifeldt bahwa dua keris lain yang ditemukan oleh Pieter Pott dan Susan Legense dipastikan bukan milik Pangeran Diponegoro. Kepastian bahwa Keris Diponegoro ada di Belanda dibuktikan dari tiga dokumen penting, yaitu korespondensi antara De Secretaris van Staat dengan Directeur General van het department voor Waterstaat, Nationale Nijverheid en Colonies antara 11-15 Januari 1831.

Dalam korespondensi itu, lanjut Margana, disebutkan bahwa Kolonel JB Clerens menawarkan kepada Raja Belanda Willem I sebuah keris dari Diponegoro. Keris tersebut kemudian disimpan di Koninkelijk Kabinet van Zelfzaamheden (KKVZ). Setelah itu pada 1883 keris ini diserahkan ke Museum Volkenkunde Leiden.

Dokumen kedua adalah kesaksian dari Sentot Prawirodirjo yang ditulis dalam Bahasa Jawa kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Belanda. Dalam surat itu Sentot menyatakan bahwa ia melihat sendiri Pangeran Diponegoro menghadiahkan Keris Kyai Naga Siluman kepada Kolonel Clerens.

Dokumen ketiga adalah catatan dari Raden Saleh, pelukis yang pernah tinggal di Belanda dan melukis penangkapan Pangeran Diponegoro. Catatan Raden Saleh ini dituliskan di bagian sisi kanan surat kesaksian Sentot Prawirodirjo. Dalam catatan itu Raden Saleh yang telah melihat dengan mata kepala sendiri keris itu di Belanda menjelaskan makna Keris Naga Siluman dan ciri-ciri fisik keris itu.

Dari tiga dokumen itu para peneliti di Belanda yakin bahwa keris koleksi Museum Volkenkunde Leiden dengan nomor seri 360-8084-lah yang dianggap paling mendekati dengan kesaksian tiga dokumen itu.

Pada Januari 2020, tim verifikasi dari Viena Austria, Habil Jani Kuhnt-Saptodewo yang diminta memverifikasi temuan tim Belanda itu menyatakan yakin bahwa Tom Quist dan Johanna Leijfeldt telah menghadirkan dokumen dan arsip-arsip yang meyakinkan untuk menyatakan bahwa keris itu milik Pangeran Dipnegoro.

Pada Februari 2020, kata Sri Margana, dirinya diminta oleh Dirjend Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menverifikasi hasil temuan Provenant Research di Museum Volkenkunde Leiden itu, untuk memastikan bahwa keris itu milik Pangeran Diponegoro.

"Dalam proses verifikasi itu saya memiliki sedikit perbedaan pendapat dengan tim peneliti Belanda tentang salah satu dari tiga binatang yang diukirkan pada keris itu. Tim sebelumnya menyatakan bahwa binatang ketiga itu adalah singa, harimau atau gajah. Namun setelah saya melihat langsung objeknya, saya dapat memastikan bahwa binatang yang diinterpretasikan sebagai gajah, singa atau harimau itu sebenarnya adalah Naga Siluman Jawa," tutur sejarawan UGM ini.

Dilanjutkan, dari ukiran Naga Siluman Jawa ini dia berkeyakinan bahwa keris ini adalah Keris Pangeran Diponegoro. "Keris itu yang dinamai Naga Siluman. Kesimpulan saya diamini oleh Dirjen Kebudayaan Dr Hilmar Farid, yang juga seorang sejarawan, Duta Besar RI untuk Belanda dan juga saudara Bonnie Triyana, sejarawan yang juga jurnalis yang menjadi bagian dari delegasi Indonesia," katanya.


Editor : Kastolani Marzuki