Kisah Nenek Kasturah, 2 Tahun Jaga Perlintasan KA di Pekalongan Tanpa Dibayar

Suryono Sukarno ยท Rabu, 05 Februari 2020 - 03:30 WIB
Kisah Nenek Kasturah, 2 Tahun Jaga Perlintasan KA di Pekalongan Tanpa Dibayar
Nenek Kasturah mengatur pengguna jalan saat melintas di perlintasan KA tanpa palang di Wiradesa, Pekalongan. (Foto: iNews/Suryono)

KAJEN, iNews.id – Kasturah (56) janda tua dengan suka rela tanpa dibayar menjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Desa Kampil, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.

 

Meski langkah kakinya gontai akibat faktor usia, Kasturah selalu mengingatkan dan menyetop kendaraan yang hendak menyeberang saat ada kereta api melintas.

Cuaca hujan atau panas seolah tak dihiraukan Kasturah. Dia tetap menjalankan aksi sosialnya dengan sepenuh hati karena khawatir ada warga melintas dan rawan kecelakaan.

 

Kasturah menuturkan, aktivitas menjaga perlintasan KA sudah dilakoninya sejak dua tahun lalu sepeninggal almarhum suaminya, Andimal. “Saya tidak tega apabila ada warga yang melintas menjadi korban kecelakan di perlintasan tersebut,” katanya, Selasa (4/2/2020).

 

Meski tidak menerima gaji dari PT KAI, Kasturah tetap menjalani aktivitasnya dengan sepenuh hati. Apalagi jika turun hujan, dia terus mengingatkan pengguna jalan agar hati- hati karena rel licin.

 

“Kadang ada juga orang yang memberi uang yang dimasukan ke ember atau memberi langsung. Setiap hari kadang mendapat Rp20.000-30.000, namun juga sering kurang,” katanya.

Meskipun nominal yang diterimanya sedikit, kata Kasturah, yang penting ikhlas melakoni aktivitasnya. “Saya hanya bisa membantu memberikan aba -aba ketika akan ada kereta api yang lewat,” ucapnya.

 

Kasturah mengaku khawatir apabila perlintasan itu tidak dijaga bisa membahayakan warga dan pengguna jalan. Sebab, dalam sehari kereta yang lewat sangat padat. “Hampir setiap setengah jam sekali ada kereta melintas. Kalau pagi antara jam 6-9 cukup banyak kereta melintas,” katanya.

Untuk memberi aba-aba ke pengguna jalan, Kasturah melengkapi diri dengan peluit dan seragam rompi menyolok.
Sejumlah warga mengaku sangat mengapresiasi kerja sosial dari janda tua ini. Mereka kadang memberikan sedikit rezeki ke Kasturah.

 

“Warga merasa terbantu dengan Ibu Kasturah ini. Kadang ada yang ngasih duit dan makanan, juga buah-buahan,” kata Robin, warga Pekalongan.


Editor : Kastolani Marzuki