get app
inews
Aa Text
Read Next : Geger! Mayat Pria asal Demak Ditemukan dalam Hutan Darupono Kendal

Kisah Petani Tua, Puluhan Tahun Kesulitan Mengubah Status Sosial

Senin, 30 Agustus 2021 - 11:17:00 WIB
Kisah Petani Tua, Puluhan Tahun Kesulitan Mengubah Status Sosial
Murodi, petani tua asal Desa Waru, Kecamatan Mranggen, Kabupaten demak saat mencabuti rumput sawah. Foto: iNews/Taufik Budi.

DEMAK, iNews.id - Seorang petani tua di Kabupaten Demak selama puluhan tahun hidup di bawah garis kemiskinan. Meskipun telah bekerja keras menggarap sawah, tidak mampu mengubah status sosialnya. 

Lelaki tua ini bernama Murodi, warga Desa Waru, Kecamatan Mranggen, Kabupaten demak. Meskipun tertatih dan susah payah, kaki-kaki lemahnya berusaha menapak di pematang sawah. Dengan sepenuh hati, dia mencabuti rumput yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi. 

Usia 65 tahun tak membuatnya surut untuk menggarap sawah. Bukan milik sendiri, melainkan sawah bengkok milik kepala desa yang disewa Rp1,9 juta per tahun. Bapak dua anak ini tak memiliki lahan sendiri yang bisa digarap. 

“Saya tidak memiliki kemampuan lain, kecuali bertani yang diwariskan dari orang tua,” kata Murodi, Senin (30/8/2021).   

Selama bertahun-tahun menjalani profesi sebagai petani, tidak membuatnya lepas dari garis kemiskinan. Rumahnya kini sedikit lebih baik setelah dibangun pemerintah karena tak layak huni. 

Tak hanya tubuhnya yang makin lemah, wajahnya juga semakin keriput. Pandangannya sering mengarah menyaksikan hamparan hijau tanaman padi. Dia selalu berharap, tanaman yang menjadi makanan pokok ini bisa mengubah jalan hidupnya. 

Namun harapan itu hanya menjadi impian di siang bolong karena harga gabah masih sangat rendah. Harga pokok penjualan (HPP) gabah sebesar Rp4.200 per kilogram, dalam praktik di lapangan sering berada di bawahnya. 

Kondisi ini menjadi pukulan berat karena tidak bisa menutup biaya masa tanam. Terlebih para petani sering dihadapkan masalah kelangkaan pupuk. Nelangsa hidup sebagai petani tak hanya dialami Mbah Murodi. 

Jutaan rakyat yang menggantungkan hidup dari mengolah sawah juga merasakan nasib serupa. Negeri agraris hanya menjadi jargon karena tak mampu menyejahterakan para petani. 

Ketua Komisi B DPRD Jateng Sumanto menilai, kehidupan petani tak pernah berubah sejak zaman dulu. Perlindungan harga gabah masih sangat minim, karena fokus pada penyediaan subsidi pupuk. 

“Padahal petani lebih memilih membeli pupuk dengan harga sedikit mahal asal harga gabah dijamin oleh pemerintah,” kata Sumanto. 

Editor: Ary Wahyu Wibowo

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut