Kisah Pilu 14 Nelayan Batang Bertahan Hidup di Laut usai Tabrakan dengan Kapal Tanker

Ary Wahyu Wibowo · Sabtu, 16 Januari 2021 - 21:12:00 WIB
Kisah Pilu 14 Nelayan Batang Bertahan Hidup di Laut usai Tabrakan dengan Kapal Tanker
Tim SAR saat melakukan pencarian 12 nelayan yang hilang. (Foto: Ist)

SEMARANG, iNews.id – Pencarian 12 nelayan anak buah kapal (ABK) KMN Berkah Abadi 30 GT yang hilang saat berangkat dari Pelabuhan Batang Jawa Tengah (Jateng) ke arah Kalimantan masih berlangsung. Posko Gabungan SAR Laka Laut masih berupaya mengerahkan tim untuk mencari 12 orang yang hilang di sekitar lokasi penemuan dua rekan mereka yang selamat. 

Adapun korban selamat bernama Saeri dan Kadarso. Keduanya saat ini dirawat di RSUD Kartini. Korban yang meninggal di laut dan masih hilang diketahui bernama Ajik Selamet Romadhon.

Sementara 11 orang lain yang masih hilang masing-masing bernama Muhammad Faizin (nakhoda), Rozikin (KKM), Kasendrayani, Muhammad Bahrul Ulum, dan Angga Rizki Saputra. Kemudian, Muhammad Saiful, Decky Satiyo, Tri Aji Pujiayanto, Botok, Taufik Hidayat dan Muhammad Muhrobin.

Laporan dari Posko Gabungan SAR Laka Laut, ke-14 nelayan atau ABK tersebut sudah berusaha untuk bertahan hidup bersmaa-sama di laut hingga akhirnya berpisah dan 12 di antaranya hilang.

Kronologi kecelakaan berawal saat Sabtu (9/1/2021), pukul 16.30 WIB. Kapal KMN Berkah Abadi 30 GT jenis cantrang berangkat dari Pelabuhan Batang dengan jumlah ABK 14 orang termasuk nakhoda, dengan arah tujuan ke Kalimantan.

Pada Minggu (10/1/2021) jam 00.15 WIB,  kapal tersebut diduga mengalami tabrakan dengan kapal tanker warna merah dari arah Jakarta tujuan arah Surabaya sehingga menyebabkan haluan depan kiri kapal bocor dan tenggelam. Sebanyak 14 orang ABK membuat rakit untuk menyelamatkan diri. 

Selasa (12/1/2021), satu ABK meninggal di laut. Selanjutnya korban Aji Selamet Romadhon dibungkus dengan  karpet dan ditempatkan di tengah rakit.

Selasa sore, terdapat ombak besar 3 meter di lokasi tersebut sehingga menyebabkan jenazah terlepas dan hilang. Pada malam harinya, lima orang ABK dipimpin nakhoda memecah rakit untuk menyelamatkan diri karena mereka beranggapan melihat lampu suar PLTU Batang.

Selasa malam, masih tersisa delapan orang ABK di atas rakit setelah tabrakan kapal tersebut. Tengah malam, tiga orang ABK memisahkan diri lagi dari rakit.

Editor : Maria Christina

Halaman : 1 2