Pakar IT Ungkap Sejumlah Kelemahan Sistem Tilang Elektronik, Apa Saja?

Taufik Budi ยท Selasa, 23 Februari 2021 - 10:48:00 WIB
Pakar IT Ungkap Sejumlah Kelemahan Sistem Tilang Elektronik, Apa Saja?
ilustrasi pemberlakuan ETLE. (Dok)

SEMARANG, iNews.id  – Sistem ETLE (electronic traffic law enforcement) atau tilang elektronik, yang segera diberlakukan mendapat sorotan pakar teknologi informasi. Termasuk di Jawa Tengah, sistem ini akan diberlakukan  pada 17 Maret 2021.

“ETLE sebenarnya sudah pernah diberlakukan tahun 2018. Namun karena deteksi pelanggaran lalu lintasnya  masih semi-manual dalam arti masih membutuhkan campur tangan petugas akhirnya ETLE tidak berlanjut,” kata pakar IT Solichul Huda, Selasa (23/2/2021).

Dia mengatakan, penerapan ETLE yang digagas Kapolri memiliki tujuan bagus yakni mengurangi tilang di jalanan. Selama ini, tilang di jalanan dikeluhkan masyarakat karena kerap terjadi penyalahgunaan kewenangan oleh petugas.

“Kapolri baru memiliki program kerja akan memberlakukan ETLE ini dengan berbagai perbaikan,” katanya.

Menurutnya, implementasi ETLE dapat menggunakan dua model. Pertama mendeteksi pelanggaran secara otomatis oleh sistem. Kemudian, kedua mendeteksi pelanggaran menggunakan IT, namun validasi dilakukan oleh petugas.

“Yang bagus penerapan ETLE model pertama. Identifikasi jenis pelanggaran, identitas kendaraan dilakukan secara otomasi oleh perangkat CCTV dan perekam pelat nomor kendaraan,” katanya.

“Setiap pelanggaran yang terdeteksi misalnya melanggar marka jalan berdasarkan pelat nomor sistem ini  langsung dapat mengetahui kendaraan yang melanggar dan denda diakumulasikan ketika pemilik melakukan pembayaran pajak kendaraan. Semua bukti tersimpan secara otomatis oleh sistem,” ujar dia.

Sistem otomatis ETLE akan mendeteksi pelanggaran tanpa memperhatikan pemilik kendaraan. Sehingga penerapannya bisa lebih objektif, karena tanpa subjektivitas campur tangan petugas dalam penentuan tilang.

“Dalam ETLE semi manual Apa mungkin kalau ternyata pemilik kendaraan adalah keluarga atau teman dekat petugas, dia akan melakukan tilang? Akan tetapi butuh waktu kalau model otomatis ini akan diberlakukan di Indonesia, karena butuh pelat nomor standar baik warna dan ukuran nomor pelatnya sehingga dapat terbaca oleh CCTV secara otomatis,” lugasnya.

“Model ini akan terkendala jika ada pelat nomor palsu, atau kendaraan yang tidak menggunakan pelat nomor. Atau pelat nomor tidak diletakkan di tempat yang semestinya. Misalnya sepeda motor yang menaruh pelat nomor di samping kiri atau kanan,” tandasnya.

Dia pun menyebut dengan infrastruktur saat ini, penerapan tilang elektronik masih belum efektif. “Belum efektif. Memang kalau memberlakukan ETLE otomatis, ada beberapa pembenahan yang harus dilakukan. Mulai dari pemasangan alat identifikasi marka jalan, standar pelat nomor, serta penerangan jalan yang mencukupi, ini yang butuh waktu dan biaya besar,” katanya.

Doktor Ilmu Komputer itu menyampaikan, model kedua ETLE pernah diberlakukan pada 2018 dengan sistem semi-manual. Petugas memasang CCTV di berbagai titik, jika diidentifikasi terjadi pelanggaran lalu lintas akan diverifikasi ETLE NTMC untuk validasi pelanggaran.

Kemudian memberitahu ke pelanggar untuk validasi tentang kepemilikan kendaraan yang melanggar, sekaligus meminta pembayaran besaran tilang dalam kurun waktu tertentu.

“Kalau tujuannya untuk menghindari tilang oleh oknum, untuk sementara sudah tepat. Namun dengan berkembangnya perangkat teknologi informasi, model ETLE ini harus diubah menjadi model ETLE otomatis. Saya yakin jika ini dijalankan serius oleh polantas, dalam waktu tiga tahun pasti ETLE otomatis dapat diberlakukan di Indonesia,” ujarnya.

“Kelemahan ETLE yang akan diberlakukan ini, sebuah kendaraan melanggar atau tidak itu diputuskan oleh petugas yaitu petugas posko NTMC. Sehingga ada kemungkinan jika ada kendaraan melanggar dan petugas kenal baik dengan pemiliknya, ada kemungkinan pelanggaran tersebut oleh petugas dianggap tidak ada,” ujar dia.

Sebelumnya, Dirlantas Polda Jateng Kombes Pol Rudy Syafiruddin, mengatakan, terdapat 27 titik yang sudah terpasang kamera untuk penindakan ETLE. Di antaranya, 6 titik di Polres Surakarta, 1 di Polres Kebumen, 2 di Polres Cilacap, 1 Polres Wonogiri, 1 Polres Karanganyar, 2 Polres Klaten, 2 Polres Pati, 1 Polres Kudus,1 Polres Demak, 1 Polres Purbalingga.

“Jadi e-tilang ini akan kita launching tanggal 17 Maret sebanyak 27 titik, itu tahap pertama. Tahap kedua nanti akan kita launching di April mungkin sekitar 50 titik. Tapi untuk yang April masih menggunakan kamera portable, di mana keseluruhan pengguna jalan nanti yang akan melakukan kegiatan kurang terpuji yaitu melakukan pelanggaran, akan terekam, terfoto oleh kamera-kamera ETLE yang sudah kita pasang,” kata Dirlantas.

“Ini membuat masyarakat dengan sendirinya menjadi pintar. Dia harus pintar terhadap dirinya sendiri, dia harus bagaimana melakukan rangkaian kegiatan perjalanan, mengatur ritme administrasi dia sendiri sehingga tanpa disadari kita memberikan pembelajaran terhadap masyarakat menjadi orang yang pintar,” katanya.

“Sebetulnya ETLE ini di kita sudah terpasang sejak tiga tahun lalu, tapi tidak bisa dilakukan. Karena memang regulasi belum ada. Sekarang kita lakukan seluruhnya, kami bekerjasama dengan Dispenda dan Dinas Perhubungan,” ujarnya.

Editor : Ahmad Antoni