Pemprov Jateng Evaluasi Sekolah Tatap Muka, Ganjar: Siswa Tidak Naik Angkot

Ahmad Antoni ยท Rabu, 23 September 2020 - 08:09 WIB
Pemprov Jateng Evaluasi Sekolah Tatap Muka, Ganjar: Siswa Tidak Naik Angkot
Ganjar Pranowo meninjau aktivitas belajar siswa SMP Birrul Ummah Tegalrejo Magelang.Kamis (16/7/2020).(Foto: Dok Humas Pemprov Jateng)

SEMARANG, iNews.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah saat ini tengah mematangkan hasil evaluasi simulasi sekolah tatap muka selama dua pekan terakhir yang dilaksanakan di tujuh SMA/SMK. Nantinya, sekolah yang mengajukan pembelajaran tatap muka harus memenuhi standar dari hasil evaluasi tersebut.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjelaskan, evaluasi yang berjalan hingga hari ini seluruhnya berjalan dengan baik. Pihaknya juga tengah meminta pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) untuk menggabungkan hasil terbaik dari evaluasi di berbagai tempat.

“Kalau itu bisa dijadikan satu maka akan bisa ditemukan terbaik-terbaiknya dari masing-masing. Inilah yang kita jadikan satu sistem, sehingga nanti jadi guidance kita berdasarkan praktik. Ya ini lho adaptasinya,” ucap Ganjar, Selasa (22/9/2020).

Sehingga nantinya, jika ada sekolah yang ingin membuka atau melakukan simulasi tatap muka harus memenuhi item-item atau indikator dari hasil simulasi tujuh sekolah tersebut. Dia mengatakan, sebenarnya tujuh sekolah yang saat ini melaksanakan simulasi sudah memiliki pedoman yang baik. Namun, karena masih meraba-raba, dengan simulasi yang berjalan ini maka bisa ditemukan cara tepat untuk beradaptasi.

“Nah bagaimana caranya? ya mulai dari rumah, dia tidak naik angkot, diantar orang tua, pulangnya juga begitu tidak mampir-mampir, di kelas istirahat juga tidak keluyuran, membawa makan sendiri, memakai masker, tempat cuci tangan ada, tempat parkir ada, gurunya juga membuat SOP yang baik, dan melindungi dirinya,” ucapnya.

Sampai hari ini, Ganjar mengaku sudah ada beberapa sekolah lagi yang mengajukan izin untuk bisa menggelar tatap muka. Namun, kebanyakan kembali menunda karena belum bisa memenuhi pedoman adaptasi yang ada.

“Beberapa sudah minta kemarin ada, tapi ketika kita minta harus begini-begini sanggup nggak, mereka ternyata belum sanggup dan minta tunda lagi, oke,” katanya.


Editor : Nani Suherni