Kajian Fikih

Pentingnya Thaharoh, Ini 7 Macam Air yang Boleh untuk Berwudhu

Kastolani ยท Senin, 23 Desember 2019 - 05:30 WIB
Pentingnya Thaharoh, Ini 7 Macam Air yang Boleh untuk Berwudhu
Wudhu memiliki banyak keutamaan dalam Islam. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Islam mengajarkan pemeluknya untuk selalu menjaga kebersihan baik dalam beribadah maupun dalam beraktivitas sehari-hari.

Karena itu, bab thaharoh atau bersuci menjadi pembahasan pertama dalam tiap kitab fikih.

Thaharoh menurut bahasa artinya bersih dan suci. Sedangkan menurut istilah ahli fikih berarti membersihkan diri dari hadas atau najis, seperti mandi, berwudlu atau bertayamum.

Ada tujuh macam air yang boleh untuk bersuci atau berwudhu:
1. Air hujan
2. Air laut
3. Air sungai
4. Air sumur
5. Air mata air (sumber)
6. Air es (salju)
7. Air embun

Tentang air hujan berdasarkan firman Allah SWT: wa yunazzilu 'alaikum Minassamaai maa alliyuthahhirakum bihi".
Artinya: "Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu". (QS. Al Anfal:11).

Adapun air laut itu suci berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw:
"Huwaththahuuru maauhu Al hillu maitatahu".
Artinya: Dia (air laut) suci airnya, halal bangkainya". Dishahihkan Ibnu hibban, Ibnu sakan, at turmuzi dan Al Bukhari.

Macam macam air:
Air dibagi menjadi empat macam:
1. Air mutlak yakni air yang suci lagi menyucikan dan tidak makruh untuk bersuci. Air mutlak ini bisa untuk menghilangkan hadas dan najis.

2. Air musyammas yakni air yang kena sinar matahari sampai panas. Air ini suci menyucikan, tapi makruh untuk dipakai bersuci.

3. Air musta'mal yakni, air yang telah dipakai untuk bersuci. Air ini suci tapi tidak menyucikan, tidak boleh dipakai untuk bersuci. Tetapi kalau belum berubah rasa dan baunya masih tetap suci.

4. Air najis yakni air yang sedikit atau banyak yang terkena najis sehingga berubah rasa atau baunya. Kalau air itu sedikit, menjadi najis sebab bercampur dengan najis baik keadaan berubah atau tidak. Tetapi kalau air itu banyak menjadi najis sebab bercampur dengan barang najis sampai berubah rasa atau baunya.

Yang dimaksud air sedikit di sini adalah air yang kurang dari dua kulah. Ukuran kulah yakni sekitar 200 liter.
( Sumber: Kifayatul Akhyar)

Wallahu A'lam Bishshawab.


Editor : Kastolani Marzuki