Puluhan Penonton Pertunjukan Kuda Lumping di Banyumas Kesurupan Massal
BANYUMAS, iNews.id – Kesurupan massal terjadi saat pertunjukkan atraksi kesenian tradisional kuda lumping di Lapangan Patikraja, Banyumas, Jawa Tengah. Puluhan penonton yang sedang menyaksikan pertunjukan itu mendadak satu per satu ikut kesurupan dan bertingkah aneh, Rabu (28/3/2018.
Pantauan iNews, kesurupan massal berawal saat sejumlah penari kuda lumping memulai aksi diiringi lantunan alat musik tradisional. Perlahan beberapa penonton mengamuk seperti orang kesurupan. Mereka yang mengalami gejala kesurupan justru kebanyakan yang berada cukup jauh dari pusat pertunjukkan acara
Saat kesurupan, para penonton itu bertingkah aneh-aneh. Ada yang menari-nari seperti wanita, mengamuk, menjerit-jerit, berjoget meniru gerakan monyet dan bergaya silat. Mereka yang kesurupan pun dibiarkan, karena jika orang awam menolong, mereka justru akan mengalami hal yang sama. Nantinya para pemain kudan lumping akan mendatangi satu per satu warga yang kesurupan lalu melepaskan dari arwah leluhur yang merasukinya.
Bukan hanya dialami lelaki dewasa, kalangan penonton remaja dan anak-anak juga ikut kesurupan saat menyaksikan pertunujukan kesenian tradisional kuda lumping tersebut. Menariknya, jumlah penonton yang kesurupan justru lebih banyak dari para pemain kuda lumping.
Edy, salah satu pegiat kesenian tradisional tersebut mengatakan, semakin banyak yang kesurupan, justru menunjukkan kesenian kuda lumping kian digemari masyarakat. Dia juga memiliki jawaban atas fenomena yang dialami puluhan penonton tersebut. Dia menjelaskan, kesurupan itu terjadi karena mereka memanggil Indang atau arwah leluhur untuk melakukan aksinya, sekaligus untuk merrasuki penonton yang memang sudah mempunyai bakat menjadi pemain kuda lumping.
"Tidak semua mengalaminya (kerasukan). Kami memang memanggil Indang saat akan pertunjukan. Dan Iddang itu bisa merasuk ke siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kesurupan yang terjadi saat pertunjukkan kesenian kuda lumping merupakan bentuk kebahagiaan bagi kami para penggiatnya dan menunjukkan seni tradisional ini masih banyak diminati masyarakat," ujarnya.
Editor: Donald Karouw